BANGKOK SIEM THAI
by indrihr • 02/02/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Baru saja netizen Indonesia gundah karena kesebelasan kita dikalahkan kesebelasan Thailand dalam laga The ASEAN Football Federation (the AFF) Championship. Padahal di sektor pertanian, sudah sejak lama kita tertinggal sangat jauh dari Thailand.
Sudah sejak dekade 1950 masyarakat Indonesia mengenal ayam bangkok. Beda dengan ayam kampung kita, jago bangkok berperawakan tinggi besar dengan kepala dan paruh yang juga besar. Para botoh (penggemar) sabung ayam, pasti akan memilih jago bangkok. Memelihara ayam bangkok, bukan untuk dimanfaatkan telur dan dagingnya, melainkan untuk diadu. Hingga sudah sejak lama, masyarakat Indonesia beranggapan bahwa bangkok adalah kosa kata untuk mewadahi produk peternakan dan pertanian yang berukuran besar dan hebat. Kemudian ada lele, perkutut, durian, belimbing, lengkeng dan pepaya bangkok.
Sebagian besar petani kita pun juga tidak tahu bahwa bangkok nama ibukota Thailand. Yang mereka ketahui, bangkok jenis ayam, jambu dll. Karena berukuran besar dan berkualitas baik, harga ayam bangkok lebih tinggi dari ayam kampung biasa. Meskipun ketika ayam jago bangkok dibawa ke pasar untuk dipotong, akan dihargai sama dengan ayam jago biasa. Ayam jago bangkok baru akan bernilai tinggi apabila dijual secara internal di komunitas para botoh. Sampai sekarang sabung ayam bangkok masih terus berlangsung dengan aman meski judi dilarang. Sebab hobi ini disenangi beberapa perwira polisi/TNI.
Ayam dan perkutut bangkok benar berasal dari Thailand. Tetapi induk durian monthong, kultivar paling terkenal; justru berasal dari Kalimantan Barat. Jambu biji bangkok yang populer pada dekade 1980, berasal dari Vietnam. Sama dengan lengkeng ping pong. Para petani Thailand menyebut ping pong lengkeng indonesia, karena mereka mengira lengkeng ini dari negeri kita. Saat berkunjung ke Thailand 1990, seorang petani dengan serius bertanya detil tentang lengkeng ping pong. Saya jawab, di Indonesia lengkeng ping pong disebut sebagai “lengkeng bangkok”.
Belimbing bangkok dengan sosoknya yang besar, berwarna kemerahan, juga tak ditemukan di Thailand. Banyak yang menduga belimbing bangkok merupakan varian dari belimbing dewi. Dalam seminar buah nasional 1989, Direktur Buah Thailand, heran ketika disodori “jambu air bangkok” berwarna hijau kecoklatan, berbentuk agak persegi, dengan rasa sangat manis. “Di negeri kami jambu air justru tak terlalu manis dan berwarna hijau muda”. Kepala Puslit Hortikultura waktu itu mejelaskan, jambu air seperti ini banyak ia temukan di pulau Madura dan disebut camplong.
Tapioka Thailand
Masyarakat Indonesia agak aneh. Jeruk kecil, hijau, tetapi manis; disebut jeruk siem. Labu kecil juga disebut labu siem. Siem (Siam), nama kerajaan Thailand zaman dulu; dengan wilayah meliputi Semenanjung Malaya, Kamboja dan Laos. Padahal jeruk siam asli dari kepulauan Indonesia. Yang pernah sangat terkenal dan merajai pasar buah, jeruk siem pontianak dari Kecamatan Tebas. Labu siem lebih aneh lagi, sebab sayuran ini berasal dari selatan Meksiko dan negara-negara Amerika Tengah. Labu siam (waluh jipang) tak ada kaitan sama sekali dengan kerajaan Siam, Desa Jipang (Blora) atau negara Jepang.
Generasi millenial lebih mengenal Thailand lewat thai tea (teh tarik dingin), thai tulip (bunga Curcuma alismatifolia), thai boxing (tinju khas Thailand), thai massage (pijat khas Thailand), Thai Airways (maskapai penerbangan Thailand) dan Thai Restorant (rumah makan khas Thailand) yang tersebar di banyak tempat di DKI Jakarta. Generasi millenial melihat Thailand dari kekhasan mereka. Thailand memang negeri dengan karakter kuat dan tidak pernah dijajah negeri mana pun. Raja, agama dan budaya mereka junjung tinggi, dan mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebutan bangkok, siem dan thai untuk produk pertanian dan makanan; menunjukkan kuatnya dominasi Thailand di Indonesia. Pertanian Thailand sangat maju. Terutama pertanian buah-buahan tropis. Produk durian dan lengkeng Thailand rutin membanjiri pasar buah Indonesia. Belum lagi produk-produk olahan buah dan sayuran dalam kemasan kaleng maupun plastik. Di Uni Eropa, kita bisa menemukan petai, nangka muda, kelapa muda; semua produk Thailand. Para petani negeri ini tak hanya mampu menanam, tetapi juga mengolah, mengemas dan memasarkannya.
Dulu, Indonesia punya kuota ekspor tapioka ke Uni Eropa. Ketika kita kekurangan tapioka, kuota itu kita “jual” ke Thailand. Sekarang, Indonesia yang justru rutin impor tapioka dari Thailand rata-rata 500.000 ton per tahun. Pernah sampai 1 juta ton. Tanpa sadar, kita telah menjadi konsumen singkong terbesar di dunia, dalam bentuk bakso, sosis, pempek, siomay dll. Karena produksi singkong kita tak mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri, terpaksalah impor dari Thailand. Produksi singkong kita terus naik, tetapi kenaikan produksi itu tak secepat kenaikan konsumsi.
Thailand memang sangat rasional dalam mengelola pertanian. Saya pernah terkecoh ingin melihat “pabrik” pengolahan leci dalam kaleng. Ternyata pabrik itu tidak ada. Leci dalam kaleng itu produksi petani kecil yang bergabung dalam koperasi. Leci itu dikalengkan di ruang-ruang sempit tetapi di banyak tempat, dengan label sama. Pertanian dan koperasi dijadikan satu dalam Kementerian Pertanian dan Koperasi (Krasuang Kaset Lae Sahakon), yang dibentuk tahun 1892, dan sampai sekarang tak pernah diubah-ubah. Saat Kementerian Pertanian dan Koperasi Thailand dibentuk, kita masih dijajah Belanda. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
