PUPUK DAN MEDIA TANAM ANGGREK
by indrihr • 14/03/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Ada sebuah anekdot: “Di tangan para hobiis awam, tanaman anggrek mati justru karena kelebihan pupuk dan air”. Bukan karena kurang pupuk dan air, sebab di alam aslinya anggrek hidup sebagai tumbuhan epifit di pohon, batu dan serasah hutan.
Di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, NTT; anggrek Vanda limbata tumbuh di dahan bidara laut, Strychnos lucida. Pulau Rinca beragroklimat kering dan panas. Hujan hanya turun selama tiga bulan dalam setahun. Selebihnya sembilan bulan panas terik, dengan kelembapan udara rendah. Tetapi, Vanda limbata itu tumbuh sangat subur. Kebutuhan air selama musim kemarau, terpenuhi dari embun yang membasahi daun serta akarnya. Kebutuhan nutrisi diperoleh dari debu yang beterbangan dan menempel di daun serta akarnya. Sinar matahari musim kemarau, hanya sedikit tersaring oleh ranting bidara laut yang meranggas.
Anggrek genus Paphiopedilum kebalikan dari Vanda limbata. Mereka hidup di serasah hutan yang tebal dan porous. Sinar matahari langsung hampir tidak ada. Pada musim kemarau sekali pun, kelembapan udara sangat tinggi. Pada saat hujan turun dengan lebat berkepanjangan, serasah hutan tempat tumbuh Paphiopedilum tak pernah tergenangi air. Karena serasah itu sangat porous, air hujan segera mengalir ke tempat yang lebih rendah, atau meresap ke dalam tanah. Beda dengan Vanda limbata yang harus efektif mengambil air dan efisien mengelolanya; Paphiopedilum harus efektif menyerap sinar matahari dan efisien mengelolanya.
Vanda limbata dan Paphiopedilum merupakan dua titik ekstrim anggrek tropis. Yang satu hidup di alam panas dan kering, minim air serta nutrisi. Satunya lagi di habitat basah dan lembap, minim sinar matahari. Tetapi keduanya tumbuh subur, berbunga, menghasilkan buah dan kemudian bijinya menyebar untuk melanjutkan keberlangsungan spesies. Ketika dua genus anggrek ini diambil dari habitat aslinya kemudian ditanam dalam pot di rumah; kemungkinan besar akan mati. Vanda limbata mati karena kelebihan air dan nutrisi, Paphiopedilum mati karena kelebihan sinar matahari.
Di antara dua titik ekstrim itu, terdapat banyak sekali variabel kebutuhan air, nutrisi, sinar matahari dan angin. Tanpa cukup angin, penyakit akibat jamur, bakteri dan mikroorganisme lain akan mudah sekali menyerang anggrek. Di tingkat dunia, variabel agroklimat itu dibagi menjadi temperate, tropis dan gurun. Di Indonesia dibagi menjadi dataran rendah basah, dataran tinggi basah, dataran rendah kering dan dataran tinggi kering. Variabel itu sedemikian banyaknya hingga ada beberapa spesies anggrek dengan habitat asli sangat sempit. Misalnya anggrek bulan jawa, Phalaenopsis javanica yang berhabitat asli di Sukabumi dan Cianjur selatan.
Budidaya Anggrek Hibrida
Hampir semua anggrek yang dibudidayakan secara massal sebagai penghasil bunga merupakan hibrida (silangan antar spesies atau genus). Meskipun cukup banyak genera hibrida yang dibudidayakan secara massal sebagai industri bunga maupun rumah tangga para hobiis; secara umum hanya ada tiga genus yang paling populer: Dendrobium, Phalaenopsis dan Vanda. Ketiganya merupakan anggrek epifit. Genus Dendrobium paling mudah dibudidayakan bahkan oleh kalangan awam sekalipun. Phalaenopsis sedikit lebih rumit hingga kalah populer dibanding Dendrobium. Vanda sebenarnya bandel tetapi berbunganya lama.
Ada dua cara membudidayakan tiga genus anggrek ini. Pertama dengan ditempel di batang atau cabang pohon, kedua ditanam dalam pot. Bagi para hobiis anggrek yang tak punya waktu menekuni hobi ini, disarankan untuk menempelkan anggreknya di pohon. Dengan cara ini, yang perlu dilakukan hanyalah menyiramnya pada musim kemarau. Tanpa perlu mengganti pot dan media tanam, tanpa perlu memupuknya, tanpa perlu memberi naungan paranet. Tempat menempelkan anggrek itu mestilah masih mendapat sinar matahari, meskipun sebagian terhalang oleh tajuk pohon.
Cara kedua menggunakan pot. Pot ini bisa digantung, bisa ditempel di tembok, bisa ditaruh di atas rak. Pot anggrek epifit sebaiknya tidak diletakkan langsung di atas tanah. Idealnya digunakan pot gerabah (tanah liat) bukan pot plastik. Sebab secara alamiah, gerabah mudah ditempeli akar, dan menyerap air. Media tanam anggrek ada macam-macam, mulai dari sabut kelapa, sphagnum moss, cincangan akar pakis (yang sekarang sudah dilarang), dan arang kayu. Biasanya digunakan arang kayu keras, misalnya bakau, rambutan, kamboja, akasia gunung dll. Arang kayu lunak akan cepat hancur hingga perlu segera diganti.
Prinsip media tanam anggrek sebenarnya hanyalah untuk pegangan akar, bukan sebagai penyedia nutrisi. Hingga genus Vanda hanya ditaruh di reng yang disusun menyilang membentuk kotak berongga. Akar Vanda tumbuh menjuntai ke arah samping dan bawah. Pecahan batu bata, genteng, dan styrofoam; juga bisa digunakan sebagai media tanam anggrek. Kelemahan batu bata dan genteng terlalu berat, styrofoam terlalu ringan dan sulit ditempeli akar. Dari sekian banyak pilihan, media tanam arang kayu keras paling ideal untuk membudidayakan anggrek dalam pot skala massal maupun hobiis.
Para hobiis anggrek telah menciptakan mitos yang aneh. Misalnya, anggrek akan tumbuh subur dan berbunga apabila disiram air cucian beras, diberi MSG, vitamin B Kompleks dll. Yang benar, anggrek dalam pot atau di pohon, perlu rutin dipupuk menggunakan pupuk buatan dengan unsur makro (N, P dan K) serta unsur mikro (Mg, Fe, dll). Banyak merk pupuk buatan yang bisa dibeli dengan harga terjangkau. Pemberian pupuk buatan itu seyogyanya diperkecil dari dosis yang dianjurkan dalam kemasan. Dalam industri bunga, anggrek perlu diberi paranet guna menyaring sinar matahari sesuai keperluan si anggrek. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
