PERIA (PARE) HUTAN RP 200.000 PER KILOGRAM
by indrihr • 27/05/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Peria hutan, pare alas, balsam apple, Momordica balsamina, berukuran sangat kecil, panjang 3 sentimeter, diameter 1,5 sentimeter. Meskipun disebut peria hutan, sebenarnya pare ini justru tumbuh liar di kawasan pemukiman, bahkan di kota-kota besar termasuk Jakarta.
Peria hutan berasal dari Afrika Tropis. Tak diketahui dengan pasti kapan menyebar ke Asia Tropis. Menyebar ke Australia dan Amerika Tropis setelah abad 16. Sekarang menjadi gulma yang sangat invasif di mana-mana. Penyebaran yang sangat cepat disebabkan burung sangat menyukai buah/bijinya. Buah peria hutan yang berwarna hijau itu akan berubah menjadi kuning lalu pecah dan merekah dengan biji-bijinya yang dilapisi oleh daging buah warna merah. Burung yang memakan bijinya akan menyebarkan spesies ini ke mana-mana. Hanya sebagian kecil masyarakat yang tahu bahwa daun dan buah peria hutan edible.
Daun dan buah peria hutan malah tidak pahit seperti peria biasa, pare ayam, pare pahit, bitter gourd, Momordica charantia; yang dibudidayakan secara luas sebagai sayuran. Peria pahit juga berasal dari Afrika dan sudah menyebar ke seluruh dunia. Peria biasa yang saat ini dijual di pasar, sudah merupakan kultivar yang tidak pahit. Dulu yang dibudidayakan memang kultivar pahit dengan permukaan kulit kasar. Sekarang yang diminati konsumen peria dengan kulit lebih halus, dengan warna lebih terang. Meskipun yang dibudidayakan kultivar tidak pahit, sampai sekarang masyarakat tetap saja menyebutnya peria pahit.
Selain peria hutan dan peria biasa; ada lagi peria belut, pare welut, snake gourd, Trichosanthes cucumerina. Disebut peria belut karena bentuknya memanjang. Sebenarnya nama Inggris snake gourd lebih tepat, sebab ukuran dan terutama warna kulitnya lebih mirip ular dibanding belut. Beda dengan peria hutan dan peria pahit yang berasal dari Afrika, peria belut asli Asia Selatan dan Tenggara; termasuk Indonesia. Sekarang di pasar lebih banyak dijual peria biasa, bukan peria belut. Dulu, dekade 1960 yang lebih banyak dibudidayakan peria belut, karena ukuran buahnya yang lebih besar, dan rasanya yang tidak pahit.
Peria hutan, pahit dan belut; merupakan suku labu-labuan, Cucurbitaceae. Tiga jenis peria ini dideskripsi dan diberi nama oleh Carl Linnaeus, pada tahun 1753. Genus Momordica beranggotakan 36 spesies, termasuk gac, Momordica cochinchinensis. Sedangkan genus Trichosanthes beranggotakan 38 spesies, termasuk timun krai, Trichosanthes dioica. Tiga jenis peria ini tumbuh merambat. Biasanya petani membudidayakan peria pahit dan peria belut dengan para-para, hingga buahnya menggantung. Peria hutan hampir tak pernah dibudidayakan dan justru dianggap sebagai tumbuhan pengganggu (gulma).
“Arus Balik”
Di pasar tradisional, harga peria pahit hanya Rp 3.000 per kilogram. Di marketplace, peria pahit dibanderol antara Rp 10.000 sampai Rp 25.000 per kilogram belum termasuk biaya kirim. Peria belut jarang tampak di pasaran, karena konsumen lebih suka peria pahit. Kalau pun ada, harganya relatif sama dengan peria pahit. Peria hutan tak pernah dijual di pasar, karena tak ada yang membudidayakannya. Kalau pun ada yang ingin memasak daun atau buahnya, tinggal ambil dari lahan-lahan kosong yang ditumbuhi peria hutan. Terlebih juga belum banyak anggota masyarakat yang tahu peria hutan. Peria belut yang pernah populer pun, sekarang juga makin tak dikenal.
Belakangan daun dan buah peria hutan dijual di Toped, Bukalapak dan Shopee. Daun peria hutan ditawarkan Rp 20.000 per kilogram belum termasuk ongkir. Ini masih termasuk murah, sebab satu kilogram daun peria itu sangat banyak. Buah peria hutan ditawarkan Rp 20.000 per 100 gram. Berarti satu kilogram buah peria hutan, dihargai Rp 200.000. Ini sama dengan harga buah ciplukan, cecendet, golden berry, Physalis peruviana; yang empat tahun silam berharga Rp 200.000 per kilogram. Sekarang ciplukan sudah turun jadi Rp 50.000 – Rp 100.000 per kilogram, karena sudah banyak yang membudidayakannya.
Konsumen peria hutan, sekarang bukan masyarakat lapis bawah di pedesaan; melainkan generasi millenial di kota, yang terbiasa belanja online. Sekarang sayuran dan lalap yang aneh-aneh; yang di desa sudah dilupakan; justru dengan mudah didapatkan lewat marketplace; dengan konsumen generasi muda strata menengah yang relatif terdidik. Misalnya sembukan, Paederia foetida; reundeu, Staurogyne elongata; putat, Planchonia valida. Lima tahun yang lalu, mencari daun sembukan masih sangat sulit, meskipun tumbuhan ini juga sangat invasif dan menjadi gulma di banyak negara.
Tampaknya, tanpa ada yang memberi komando; sekarang terjadi semacam arus balik. Sayuran modern produk agroindustri massal menyerbu kawasan pedesaan; menggerus sayuran konvensional yang sebagian besar berupa gulma. Kemudian ada arus balik yang memberikan perlawanan. Sayuran tradisional yang dilupakan di pedesaan, menarik perhatian masyarakat perkotaan yang relatif makmur dan terdidik. Awalnya, fenomena ini dimulai dari mereka yang sekedar ingin bernostalgia, makan peria hutan seperti “zaman susah” dulu. Ternyata komoditas-komoditas jadul ini juga menarik perhatian generasi muda.
Fenomena ini juga merupakan jawaban dari keinginan untuk ‘back to nature”; takut terhadap cemaran pupuk dan pestisida kimia; serta tuntutan untuk hidup sehat. Pandemi yang sudah berlangsung satu tahun lima bulan; juga ikut mempercepat fenomena ini. Kelas menengah perkotaan yang stress berat akibat pandemi; berupaya untuk menyehatkan diri dengan menu-menu jadul. Upaya ini mereka yakini bisa meningkatkan imunitas. Ditambah model pemasaran online yang memudahkan siapa pun untuk menjual dan mendapatkan sayuran aneh-aneh, yang di desa-desa sudah lama dilupakan. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
