• JEBAKAN KLIK TANAMAN PENGHASIL EMAS

    by  • 20/06/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Tanaman Penghasil Emas Tumbuh Subur di RI & Terbesar di Dunia (CNBC) https://www.cnbcindonesia.com/market/20220504094740-17-336693/tanaman-penghasil-emas-tumbuh-subur-di-ri-terbesar-di-dunia Ternyata Pohon Emas Tumbuh di Indonesia, Apa Saja Jenisnya? (Detik) https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5825045/ternyata-pohon-emas-tumbuh-di-indonesia-apa-saja-jenisnya

    Itulah dua dari sekian banyak judul portal berita yang memberitakan tentang “tanaman penghasil emas”. Seakan-akan memang ada tanaman, yang hasil panennya berupa emas. Isi berita didalamnya, bukan tentang si pohon emas, melainkan orasi ilmiah dari Prof Dr Ir Hamim M.Si; Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB. Lalu tanaman penghasil emasnya mana? Ya tidak ada. Dalam orasi tersebut Hamim mengatakan bahwa ada tumbuhan yang punya kemampuan menyerap logam berat. Ini benar. Bahkan bukan hanya ada, melainkan cukup banyak.

    Tumbuhan penyerap logam berat itu digunakan untuk menetralkan cemaran logam berat di dalam tanah maupun perairan umum. Misalnya eceng gondok, Eichhornia crassipes; dan lembang, Typha angustifolia; yang mampu menetralkan cemaran logam berat di perairan umum. Hamim menyebutkan beberapa tumbuhan lain, misalnya jarak pagar, Jatropha curcas; dan bayam, Amaranthus tricolor. Tumbuhan itu bisa digunakan untuk menetralkan lahan-lahan bekas tambang, yang masih tercemar logam berat hasil penambangan sebelumnya. Dalam orasi tersebut, Hamim juga menyampaikan tentang kemampuan tumbuhan dalam menyerap emas dengan potensi 5 – 7 gram per hektare.

    Harga emas saat tulisan ini disusun, Rp 871.000 per gram. Hingga potensi nilai emas dari tanaman tersebut antara Rp 4,3 – Rp 6 juta per hektar. Biaya untuk ekstraksi emas dari tanaman, tak disebutkan oleh Hamim. Padahal hasil bayam atau kangkung dari tiap hektar lahan selama satu musim tanam (1 – 2 bulan) sebesar 20 ton dengan harga antara Rp 5.000 – Rp 7.000 per kg di tingkat petani. Artinya, dengan menjual sayuran tersebut, petani akan langsung menerima uang cash sebesar Rp 10 – 14 juta dari tiap hektar lahan mereka. Kalau bayam itu diekstrak emasnya, justru malah rugi, karena sudah mengeluarkan biaya ekstraksi, dapatnya hanya Rp 4,3 – Rp 6 juta per hektar.

    CNBC dan Detik tak peduli dengan logika bisnis tersebut. Juga tak pernah disebutkan apakah selama ini sudah pernah ada petani atau perusahaan menambang emas dengan tanaman? Sebab yang disampaikan Hamim hanyalah teori. Kecuali tentang potensi tumbuhan sebagai penyerap logam berat, yang memang sudah dilakukan oleh banyak negara. Menetralkan logam berat dari bekas-bekas tambang, misalnya cemaran air raksa (mercury), dari tambang emas rakyat, justru lebih mendesak dari potensi tanaman sebagai penyerap emas. Sampai sekarang menambang emas cukup dengan mengambil bijih dengan kadar emas tinggi, lalu mengekstraknya secara langsung dengan biaya lebih murah.

    Jebakan Klik dan Hoax Tanaman

    Batuan bijih emas, mengandung sekitar 1,7 sampai dengan 2,1 gram emas per ton. Selain emas, dalam bijih itu juga terkandung tembaga dan perak, dengan kandungan bervariasi. Dari tiap hektar lubang tambang, dapat diambil ratusan sampai ribuan ton bijih. Kalau lahan tersebut dieksplorasi dengan tanaman penyerap logam, dapatnya sekitar Rp 4,3 – Rp 6 juta per hektar. Sedangkan dengan ditambang langsung, hasilnya belasan ton per tahun. Dari lubang tambang. Grasberg milik Freeport di Papua, tahun 2021 dihasilkan 36 ton emas, senilai Rp 31,3 triliun. Selama emas masih bisa ditambang dengan biaya lebih murah, menambang emas dengan tanaman merupakan kebodohan.

    Media-media digital memang cenderung mengabaikan moral. Demi mengejar jumlah klik, mereka menciptakan “jebakan klik” dengan judul-judul bombastis yang tidak cocok dengan isi berita. Judul “Tanaman Penghasil Emas Tumbuh Subur di RI & Terbesar di Dunia” jelas bohong. Sebab isi beritanya hanya tentang potensi tanaman sebagai penyerap logam berat, tentu termasuk emas. Tetapi isi berita bukan tentang adanya tanaman penghasil emas yang tumbuh subur di RI dan terbesar di dunia. Tambang emas Freeport kita pun bukan yang terbesar di dunia, melainkan hanya nomor enam.

    Tanaman hias pohon dolar, Zamioculcas zamiifolia dan Dieffenbachia; pernah menjadi hoax dengan disebutkan sangat beracun dan mematikan. Banyak anggota masyarakat percaya. Padahal racun yang terkandung di dua tumbuhan ini hanyalah kalsium oksalat dengan efek gatal pada kulit. Tak pernah ada kasus kematian akibat dua tanaman hias ini. Dalam hoax itu disebutkan bahwa seorang anak tewas karena memakan daunnya. Mana ada anak kecil makan daun gatal? Disuruh ibunya makan sayuran pun banyak yang tak mau, apalagi makan daun gatal. Seandainya daun Dieffenbachia sampai tertelan pun, asam lambung akan menetralkan asam oksalat tersebut, atau perut akan memuntahkannya.

    Hoax di sekitar tanaman kebanyakan tentang khasiat menyembuhkan penyakit. Paling fenomenal ketika daun sirsak diklaim sebagai penyembuh kanker oleh seorang warga AS dan dipercaya oleh manusia sedunia termasuk orang Indonesia. Padahal untuk bisa menyembuhkan penyakit, zat aktif dalam tumbuhan tersebut perlu diekstrak. Hasil ekstraksinya diujicobakan ke hewan percobaan. Baru kemudian diuji klinis untuk manusia. Setelah uji klinis berhasil, baru diizinkan penggunaannya oleh Badan POM dan WHO. Penggunaan tanaman secara langsung dalam bentuk jamu, hanya dikategorikan sebagai makanan tambahan, atau tonik. Bukan sebagai obat.

    Tanaman populer seperti ginseng korea (Panax ginseng), paling banyak dipalsukan. Salah satunya kolesom, Talinum fruticosum; yang dipromosikan sebagai ginseng sejak dekade 1970. Sampai sekarang kolesom tetap disebut sebagai “daun ginseng” dan mampu menembus gerai pasar swalayan. Belakangan buah tinta Phytolacca americana diklaim sebagai “ginseng merah korea” dan dijual dengan harga tinggi. Tampaknya, semakin mudah masyarakat mengakses informasi melalui dunia digital, semakin mudah pula mereka tertipu, juga melalui dunia digital. Kemalasanlah yang menyebabkan masyarakat mudah tertipu. Sebab untuk memastikan benar tidaknya sebuah berita, juga cukup dengan membuka perangkat yang sama. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *