• ANCAMAN GANODERMA TERHADAP SAWIT

    by  • 26/07/2022 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Naiknya harga minyak goreng belakangan ini, salah satunya akibat penurunan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO) di Indonesia dan Malaysia. Penurunan produksi CPO itu antara lain disebabkan oleh serangan jamur Ganoderma.

    Awal tahun 2000, Taman Buah Mekarsari mendatangkan tiga batang tanaman sawit dari Malaysia untuk dijadikan pohon induk. Sejak itu jamur Ganoderma yang sebelumnya tak terdeteksi keberadaannya, tiba-tiba menyerang tanaman cemara laut, angsana, nangka dan kawista. Satu blog tanaman kawista di Taman Buah Mekarsari punah akibat serangan jamur Ganoderma ini. Jenis jamur ini berbentuk pipih seperti kipas, berwarna coklat di bagian tengah, dengan pinggiran putih. Pada awalnya Ganoderma hanya tumbuh berupa titik putih di pangkal batang. Kemudian melebar dan menyebar hingga mengelilingi seluruh pangkal batang.

    Kemudian tahu-tahu pangkal batang itu membusuk dan tanaman mati. Pohon apa pun yang terserang Ganoderma sulit untuk diselamatkan. Awalnya spora Ganoderma yang diterbangkan angin menempel di kulit batang pohon. Ketika terkena hujan, spora itu ikut aliran air ke pangkal batang, kemudian menginfeksi jaringan kulit mati. Spora Ganoderma itu tumbuh berupa tonjolan kecil berwarna putih. Tonjolan putih itu tumbuh makin besar, kemudian berbentuk seperti cawan, bagian tengahnya berubah warna menjadi coklat. Pada stadium ini, tanaman sudah sulit diselamatkan, sebab jaringan kayu yang masih hidup sudah terinfeksi.

    Nama Ganoderma diberikan oleh Karsten pada tahun 1881. Nama ini berasal dari kosa kata ganos dalam bahasa Yunani yang berarti cerah, kemilau, bersinar; dan derma yang berarti kulit. Jadi Ganoderma berarti jamur yang kemilau dan tumbuh di kulit batang pohon. Genus Ganoderma terdiri dari 250 spesies. Sebenarnya sejak tahun 1951, Ganoderma sudah diketahui sebagai penyebab penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit di Republik Kongo, Afrika Barat. Tahun 1966 Ganoderma diketahui telah menyerang kebun kelapa sawit di Malaysia, kemudian menyebar ke Indonesia.

    Awalnya Ganoderma masuk ke kebun sawit Sumatera Utara, kemudian menjalar ke Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung. Sekarang Ganoderma telah ada di hampir semua kebun sawit di Indonesia. Dari 250 spesies Ganoderma, hanya 15 spesies yang menyerang sawit. Di Malaysia Ganoderma boninense, Ganoderma zonatum, Ganoderma miniatocinctum dan Ganoderma tornatum paling banyak menginveksi tanaman sawit. Kerugian akibat serangan Ganoderma dapat mencapai 20% sampai dengan 30% dari total produksi normal apabila tanaman sehat. Nominal kerugian yang ditimbulkan bisa mencapai Rp 2 triliun per tahun.

    Upaya Penanggulangan

    Ketika Ganoderma telah tampak menempel di pangkal batang sawit, upaya penanggulangan sudah sulit karena sudah mencapai stadium lanjut. Satu-satunya cara dengan membersihkan seluruh lingkar pangkal batang itu. Jamur yang sudah terbentuk dibakar. Apabila tanaman tetap mati, segera ditebang dan dieradikasi (dimusnahkan) dengan cara dibakar. Apabila sudah ketahuan ada satu batang sawit terinfeksi, segera bersihkan lahan di sekitar pangkal batang sawit dan taburi dengan fungisida. Selain fungisida pabrik, bisa pula digunakan musuh alami berupa jamur Trichoderma dan Gliocladium; serta bakteri Pseudomonas.

    Trichoderma dan Pseudomonas, bisa dikultur sendiri dengan mengambil inokulan dari alam. Bisa pula membeli produk yang sudah jadi. Biaya penanggulangan Ganoderma dengan jamur dan bakteri sebagai musuh alami, lebih murah dibanding menggunakan fungisida pabrik. Aplikasi Trichoderma dan Pseudomonas sebaiknya dilakukan sebelum tanaman terinfeksi. Sebab dengan adanya jamur serta bakteri sebagai musuh alami ini, spora Ganoderma akan sulit menginfeksi pangkal batang sawit. Trichoderma dan Pseudomonas biasanya dicampurkan ke pupuk organik sebelum diaplikasikan ke tanaman.

    Selain Ganoderma sebagai penyebab penyakit busuk batang pada sawit, ada pula enam spesies Ganoderma yang bermanfaat sebagai obat tradisional. Salah satunya jamur merah, lingzhi, reshi, Ganoderma lucidum. Meskipun bermanfaat sebagai bahan obat tradisional, spesies Ganoderma ini juga tetap menyerang dan mengakibatkan kematian pada tanaman keras. Hingga sebaiknya dihindari membudidayakan spesies Ganoderma di dekat perkebunan sawit serta tanaman keras lainnya. Sebab begitu sudah menginfeksi satu tanaman, spesies ini akan mudah sekali menyebar ke jenis tanaman lain.

    Turunnya produksi CPO selama 2021 bukan hanya akibat gangguan jamur Ganoderma, melainkan juga karena hujan berkepanjangan. Hujan pada siang hari pada musim kemarau mengakibatkan sinar matahari terhalang, hingga proses fotosintesis terhambat. Selama pandemi 2020 dan 2021, atmosfir bumi kembali bersih dari debu dan asap pembakaran mesin kendaraan. Bersihnya atmosfir bumi menyebabkan penguapan air laut optimum, tertiup angin ke daratan dan menjadi hujan. Tahun 2022 sekarang ini hujan juga masih tetap turun sampai dengan bulan Juni. Hingga kemarau 2022 kemungkinan juga masih akan sama basah dengan kemarau 2021.

    Turunnya produksi CPO kadang juga disebabkan oleh sesuatu yang agak aneh. Dekade 2000, para pekebun sawit was-was terhadap hama tikus pohon yang memakan buah sawit. Mereka pun memelihara burung hantu Tyto javanica untuk mengendalikan populasi tikus. Tetapi, produksi tandan buah sawit (TBS) justru turun drastis ketika tikus telah terkendali. Ternyata, tikus pohon bukan hanya memakan buah sawit, melainkan juga membantu penyerbukan. Akibat berkurangnya populasi tikus pohon, penyerbukan bunga sawit terkendala, hingga produksi TBS turun. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *