• JAMBU KRISTAL MENGGESER JAMBU GETAS MERAH

    by  • 09/08/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Di kios buah dekat rumah, saya bisa membeli jambu biji kristal seharga Rp 15.000 per kilogram. Di marketplace, jambu kristal dibanderol seharga Rp 20.000 sampai dengan Rp 30.000 per kilogram belum termasuk ongkir. Sekitar 20 tahun lalu, harga jambu biji kristal di atas Rp 100.000 per kilogram.

    Jambu biji getas merah sekarang kalah pamor dari jambu kristal, dengan harga Rp 10.000 per kilogram. Padahal dekade 1990 jambu getas merah hanya bisa dinikmati oleh kalangan elite di negeri ini. Harganya jauh lebih tinggi dari jambu biji bangkok yang berdaging buah putih. Dekade 1980, sebelum ada jambu getas merah; jambu biji bangkok juga bernilai sangat tinggi. Dalam sebuah pameran tanaman di Ancol tahun 1982, benih cangkokan jambu bangkok setinggi 30 sentimeter hanya dengan beberapa daun dijual seharga Rp 50.000 tanpa boleh ditawar. Tahun itu benih buah-buahan lain masih seharga Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per polybag.

    Seorang laki-laki didampingi istri menawar benih jambu bangkok itu mulai dari Rp 30.000 sampai Rp 49.000 dan si penjual bersikukuh, tak melepaskannya. Bapak-bapak itu nyeletuk, “Di Thailand, harga perempuan Bangkok juga tak sampai segitu.” Demi mendengar gerutuan suami, ibu yang berdiri di sampingnya naik pitam. “Jadi Papah itu kalau ke Bangkok kerjanya main perempuan ya?” Dst, dst. Pada dekade itu, jambu biji bangkok menggeser jambu biji tanjung barat yang sebelumnya merajai pasar buah. Dalam waktu singkat, jambu biji bangkok dibudidayakan di mana-mana.

    Masa kejayaan jambu biji bangkok tidak lama. Salah satu penyebabnya, penyakit Demam Berdarah Dengue tiba-tiba merebak di mana-mana. Jus jambu biji merah salah satu minuman yang disebut-sebut bisa menaikkan trombosit. Tetapi jambu pasar minggu merah sudah terlanjur punah karena terserang ulat, dan juga kalah bersaing dengan jambu biji bangkok. Kebetulan dekade 1980, Research Centre Getas yang sekarang bernama Pusat Penelitian Perkebunan Getas di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah; telah meluncurkan jambu biji getas merah. Jambu biji baru ini merupakan hasil silangan jambu biji bangkok dengan jambu biji merah pasar minggu.

    Konsumen jus pada umumnya juga lebih suka jambu biji berdaging buah merah dan bukan jambu biji berdaging buah putih. Itulah yang menyebabkan jambu biji bangkok yang berdaging buah putih pelan-pelan menghilang dari pasar, digantikan oleh jambu biji getas merah. Tetapi, perkenalan masyarakat dengan jambu biji bangkok tetap menyisakan kesan rasa renyah dan manis dari bagian daging buah yang tak berbiji. Kombinasi kelezatan tekstur renyah, rasa manis dan aroma khas jambu biji bangkok, tak tergantikan oleh jambu biji getas merah. Dan tiba-tiba datanglah jambu kristal.

    Beda Kristal dengan Sukun

    Jambu kristal merupakan jambu biji tanpa biji (seedless), introduksi dari Taiwan. Sebelumnya, masyarakat Indonesia sudah lebih dahulu mengenal jambu sukun, yang juga seedless. Bedanya, jambu sukun berukuran lebih kecil. Jambu sukun merupakan jambu biji seedless (triploid) hasil mutasi alam. Selain berukuran kecil, produktivitas jambu sukun per tanaman juga sangat rendah. Beda dengan jambu kristal yang berukuran normal, dan produktivitas per tanaman cukup tinggi. Daging buah jambu kristal renyah seperti jambu biji bangkok, dengan bagian yang tak berbiji hanya merupakan bagian sangat kecil di tengah.

    Beda dengan jambu sukun yang merupakan hasil mutasi alam, di Taiwan jambu kristal sengaja diciptakan, dari jambu biji biasa dengan menggunakan cairan kolkisin (colchicine C22H25NO6 ). Pertama, jambu biji biasa, jambu diploid (2N berkromosom 22), disemai. Tunas semaian ini ditetesi larutan kolkisin, hingga jambu biasa ini menjadi tetraploid (4N berkromosom 44). Tumbuhan tetraploid bercirikan daun lebih lebar, tebal, dan berwarna hijau tua. Jambu tetraploid ini, setelah berbuah disilangkan dengan jambu biasa yang diploid. Hasil silangannya terdiri dari tiga macam: diploid, triploid (3N berkromodom 33), dan tetraploid.

    Jambu triploid selalu tidak berbiji (seedless). Selanjutnya, setelah diseleksi, jambu triploid ini dijadikan pohon induk untuk diambil entresnya. Jambu triploid yang tidak berbiji inilah yang kemudian populer sebagai jambu kristal. Kemudian jambu kristal yang tak berbiji, diperbanyak secara vegetatif, dengan batang bawah jambu biji biasa. Pada awal dekade 2000, harga benih jambu kristal mencapai Rp 500.000 per polybag. Harga buahnya sampai Rp 200.000 per kilogram dan laris manis. Itulah sebabnya orang beramai-ramai menanam jambu kristal.

    Beda dengan jambu biji bangkok yang benar-benar lenyap dari peredaran, jambu biji getas merah masih tetap dibudidayakan sebagai bahan jus. Jambu biji getas merah memang dimanfaatkan bagian daging buah yang mengandung biji dan berwarna merah. Pada jambu biji getas merah, volume bagian ini lebih besar dari bagian daging buah yang tak berbiji. Karena fungsi utamanya untuk jus, jambu biji getas merah selalu dipanen setelah benar-benar masak, seluruh bagian buah telah menjadi lunak, hingga mudah dihancurkan sebagai jus buah. Jambu biji getas merah juga diserap oleh industri minuman buah dalam kemasan.

    Jambu kristal dipanen ketika masih keras, tetapi sudah tua. Sebab jenis jambu ini akan dikonsumsi segar secara tunggal, maupun dengan buah lain dalam bentuk rujak. Sebagian besar pasar jambu biji getas merah sudah direbut oleh jambu kristal. Di kios buah dekat rumah, selalu ada jambu kristal; dan hanya kadang-kadang ada jambu getas merah. Jambu kristal juga masuk ke pedagang sayur, dan juga dipasarkan secara khusus menggunakan gerobak dorong kecil berdinding kaca. Tampaknya jambu biji getas merah dan jambu kristal tetap akan bisa berdampingan dalam jangka waktu lama karena beda cara mengonsumsi. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *