• TERATAI SEBAGAI SUMBER PANGAN

    by  • 12/09/2022 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Dekade 1960 Indonesia kekurangan pangan. Sebagai remaja saya sering ikut orang-orang tua naik perahu dan nyebur berenang di Rawa Pening mengambil polong teratai yang sudah tua. Sesampai di rumah, polong teratai itu dipecah, bijinya diambil lalu dijemur.

    Biji teratai yang telah kering itu kemudian disosoh menjadi beras teratai. Kadang biji teratai segar itu langsung ditumbuk lalu ditampi dibuang kulit bijinya, lalu dibuat bubur atau dodol. Bagi masyarakat pada umumnya, para pemungut biji teratai ini dianggap rendah martabatnya. Mereka orang-orang kelaparan yang sudah sama sekali tak punya makanan. Krisis pangan pada dekade 1960 memang sangat parah. Selain bijinya, bunga, kuncup bunga, pucuk daun teratai bisa dikonsumsi sebagai sayuran. Bonggol teratai juga mengandung pati, tetapi jarang diambil karena harus menyelam cukup dalam.

    Teratai yang diambil bijinya di Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah itu berdaun dan berbunga kecil-kecil. Warna bunganya ada yang putih, kebiruan, ada pula yang pink. Meskipun beda warna bunga, teratai di Rawa Pening itu masih sama-sama spesies Nymphaea nouchali, suku Nymphaeaceae. Dalam Bahasa Inggris teratai ini disebut blue water lily. Spesies ini tersebar di kawasan tropis Asia, Australia dan Oseanea. Di Afrika juga terdapat teratai serupa yang disebut blue Egyptian water lily, Nymphaea nouchali var. caerulea. Di seluruh dunia terdapat 107 spesies Nymphaea dengan ratusan hibrida.

    Masyarakat di sekitar Rawa Pening, menyebut teratai dengan nama cikru. Hingga dodol dan bubur biji teratai itu disebut jenang dan bubur cikru. Kadang masyarakat juga menyimpan biji teratai kering, baik yang belum disosoh maupun yang sudah menjadi beras. Selain diolah menjadi bubur dan dodol, biji (beras) teratai juga bisa dikukus dan dikonsumsi langsung. Rasa nasi teratai lebih mirip dengan ketan dan bukan seperti nasi beras biasa. Hingga mengonsumsinya juga seperti mengonsumsi ketan dengan parutan kelapa dan gula merah, atau dengan srundeng.

    Sekarang masyarakat di sekitar Rawa Pening sudah tidak memanfaatkan biji teratai sebagai bahan pangan karena kelaparan, melainkan justru untuk menarik minat wisatawan. Di Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, masih ada penduduk yang membuat dodol dari biji teratai untuk dijual. Meskipun belum menjadi “industri” seperti halnya kue talipuk di Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalsel. Di sana kue talipuk juga dibuat dari biji teratai, tetapi diolah menjadi brondong lalu dicampur gula, dicetak dalam nampan dan dipotong-potong, seperti kue jipang/teng-teng dari bahan ketan/beras.

    Per Kilo Rp 1,6 juta

    Di situs Ebay, water lily rice (Nymphaea nouchali seeds), dari Sri Lankan Olu Hal kemasan 200 gram ditawarkan 32 dolar AS (sekitar Rp 477.611,94). Yang pakai embel-embel “healthy” malah lebih murah. Healthy Organic Water Lily Seeds Rice, Sri Lanka Olu Flower Seeds kemasan 200 gram 15,99 dolar AS (sekitar Rp 238.656,72). Masih di situs Ebay, Water Lily Rice (Nymphaea nouchali Seeds), Original Sri Lankan Olu Hal kemasan 1 kilogram dibanderol 110,50 dolar AS (sekitar Rp 1.649.253,73). Dengan harga setinggi itu mestinya masyarakat di sekitar rawa-rawa pasang surut bisa menjadi kaya.

    Sebab sebagian besar rawa-rawa pasang surut ditumbuhi teratai Nymphaea nouchali. Tahun 2016, saat berkesempatan mengunjungi Rawa Dogami di Taman Nasional Wasur, saya lihat kuntum-kuntum bunga pink di mana-mana. Burung mandar besar tampak sibuk makan pucuk teratai itu. Andaikan masyarakat tahu, mereka bisa dengan mudah mengumpulkan polong teratai, menjemurnya, mengambil bijinya lalu menjualnya. Dengan harga Rp 10.000 per kilogram pun mereka sudah bisa makmur. Pedagang tinggal menyosohnya lalu menjualnya sebagai “beras teratai” yang menyehatkan.

    Tingginya harga beras teratai pertama-tama karena hukum pasar. Ketika pasokan lebih rendah dari permintaan, harga akan naik. Yang menjadi pertanyaan, banyak sumber karbohidrat lain yang bisa didapat dengan mudah dan murah, mengapa orang bersusah-payah mencari biji teratai dengan harga lebih tinggi? Ini sudah bukan lagi masalah perut lapar seperti yang dialami masyarakat di sekitar Rawa Pening pada dekade 1960. Sekarang khasiat beras teratai itulah yang menjadi dambaan masyarakat modern yang makmur, tetapi direpotkan dengan banyaknya penyakit, terutama penyakit degeneratif.

    Sejak zaman Mesir Kuno, teratai dipercaya sebagai makanan sehat. Dalam seluruh bagian tanaman kecuali bijinya, terdapat alkaloid Nimfain. Dalam daun dan batang (bonggol) terkandung koklaurin. Beberapa flavonoid seperti kaempferol, quercetins dan myricetins diketemukan dalam spesies ini, terutama pada bunga. Teratai biru ini juga mengandung glikosida, nymphalin yang berkhasiat memperkuat jantung. Secara spesifik manfaat dan khasiat teratai biru ini bisa disimak antara lain di situs Useful Tropical Plant. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Nymphaea+nouchali

    Jus daun dan tangkai daun Nymphaea nouchali yang sangat pahit berefek narkotika ringan. Jus ini sering dioleskan di dahi dan kening untuk menimbulkan ketenangan dan efek mengantuk. Di Pulau Jawa, teratai Nymphaea nouchali masih bisa dijumpai di rawa-rawa. Spesies ini mudah sekali dibedakan karena bentuk daun dan bunganya yang ramping. Umumnya warna bunga Nymphaea nouchali cenderung pucat. Beda sekali dengan teratai hibrida dengan mahkota bunga gemuk dan pendek, dengan warna-warna ngejreng: biru, merah, pink, putih, dan kuning. Yang kuning biasanya lebih mahal karena sulit diperbanyak. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *