HOAX KRISIS PANGAN 2023
by indrihr • 12/12/2022 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Awal pandemi tahun 2020 juga ada ketakutan akan terjadi krisis pangan global. Ketakutan itu tidak terjadi. Yang terjadi, dunia malah kelebihan pangan; karena aktivitas wisata, pesta dan pengumpulan massa yang identik dengan makan-makan terhenti. Tahun 2022 tiga aktivitas itu kembali menggeliat.
Tetapi entah bersumber dari mana, datang lagi ketakutan bahwa tahun 2023 akan terjadi krisis pangan global. Sebab meskipun pandemi dianggap sudah selesai, masih ada perang Rusia – Ukraina. Para penyebar hoax itu juga menyebut akan terjadi perang Korea dan perang RI – Australia. Tiga perang ini akan menjadi pemicu Perang Dunia III. Penyebar ketakutan ini bahkan masih dengan gigih mengatakan bahwa akan muncul virus Covid 19 jenis baru yang lebih ganas dan lebih mematikan. Hoax dan ketakutan ini disebarkan secara sistematis, karena tahun 2023 merupakan tahun politik menjelang Pemilu 2024.
Terbukti, selama pandemi 2020 – 2021, ketersediaan pangan nasional maupun global cukup. Produksi beras dunia 2019/2020 sebesar 498,84 (juta ton). Tahun 2020/2021 sebesar 507,24; dan tahun 2021/2022 sebesar 509,87. Selama pandemi produksi beras global justru naik. Demikian pula dengan produksi gandum. Tahun 2019/2020 produksi gandum dunia sebesar 762,2. Tahun 2020/2021 naik menjadi 774,87 dan 2021/2022 naik lagi menjadi 778,6. Produksi jagung dunia juga terus naik. Tahun 2019/2020 sebesar 1.119,71. Tahun 2020/2021 naik menjadi 1.122,83; dan tahun 2021/2022 naik lagi menjadi 1,206,96.
Beras, gandum dan jagung merupakan sumber pangan karbohidrat (pati), yang paling banyak dibudidayakan dan dikonsumsi manusia di dunia. Selain tiga jenis serealia tersebut, umat manusia juga mengonsumsi kentang, singkong, ubi jalar, talas, uwi-uwian, pisang olahan (plantain), sagu dan sukun; sebagai sumber pati. Produksi bahan pangan sumber pati berupa umbi-umbian, buah dan batang pohon selama 2019/2020 sampai dengan 2021/2022 juga terus naik. Produksi protein nabati berupa kacang-kacangan; serta protein hewani berupa telur dan daging juga terus meningkat selama 2019/2021 sampai 2021/2022.
Di Indonesia, volume produksi dan harga bahan pangan yang rutin berfluktuasi; hanya sayuran dan buah-buahan. Cabai, tomat dan bawang merah sebagai bumbu selalu rutin kelebihan maupun kekurangan pasokan. Sedangkan sayuran utama seperti kol, caisim, kangkung relatif stabil produksinya. Buah-buahan tanaman keras seperti mangga, durian, rambutan juga sangat fluktuatif, bergantung curah hujan/intensitas sinar matahari. Buah-buahan tanaman semusim seperti pisang, nanas, pepaya, semangka, melon; relatif stabil. Pengaruh sayuran dan buah-buahan terhadap krisis pangan, relatif kecil.
Krisis Daya Beli
Perubahan cuaca akibat pemanasan global menjadi alasan akan terjadi penurunan produksi pangan global. Indikator yang digunakan para penyebar hoax, salah satunya hujan yang turun berkepanjangan selama musim kemarau. Bagi Indonesia, kemarau basah justru positif untuk produksi beras nasional. Sebab sawah tadah hujan yang sebelumnya hanya bisa ditanami padi satu sampai dua kali, dengan cukupnya air bisa ditanami sampai tiga kali. Hujan berkepanjangan hanya akan berpengaruh ke produktivitas sayuran dan buah-buahan. Itu pun belum tentu terjadi dan andaikan terjadi masih bisa diatasi.
Biasanya kemarau basah berpengaruh terhadap produktivitas buah-buahan tanaman keras seperti durian dan mangga. Tahun 2021 hujan tetap turun pada musim kemarau, tetapi akhir tahun lalu durian membanjiri pasar. Varietas monthong lokal juga banyak. Berarti hujan turun berkepanjangan tak selalu berpengaruh terhadap produksi durian. Asalkan pas bunga durian mekar tidak turun hujan, kelelawar madu akan terbang dan membantu polinasi. Tahun 2022 hujan juga terus turun selama musim kemarau, dan kali ini mangga membanjiri pasar setelah tahun 2021 tak berbuah. Produksi cabai juga stabil karena petani sudah biasa menggunakan sungkup plastik untuk melindungi tanaman dari guyuran hujan.
Yang sudah terjadi selama 2020 dan 2021, bukan krisis pangan; melainkan krisis daya beli. Cadangan pangan nasional maupun global lebih dari cukup, tetapi mereka yang kehilangan pekerjaan tak punya uang untuk membeli produk pangan. Tampaknya para penyebar hoax itu sulit membedakan krisis pangan, dengan krisis daya beli. Krisis pangan berupa penurunan produksi bahan pangan, yang berdampak ke langkanya produk pangan di pasar, hingga harga melambung tinggi. Yang terjadi sekarang ini harga pangan stabil, tetapi masyarakat kesulitan membeli karena pendapatan mereka berkurang atau hilang sama sekali.
Belakangan ini memang terjadi kenaikan harga tepung terigu di pasar global, yang juga berdampak ke pasar nasional. Tahun 2020, harga tepung terigu masih di bawah harga tepung beras dan tapioka. Tahun 2022, harga tepung terigu merayap naik menyalip tepung beras dan tapioka. Kisaran kenaikan tepung terigu masih wajar berkisar antara Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per kilogram. Bukan seperti kenaikan harga minyak goreng kemarin; yang sampai di atas Rp 10.000 per liter. Kenaikan harga tepung terigu, antara lain disebabkan oleh perang Rusia – Ukraina yang sampai sekarang belum kunjung selesai.
Rusia merupakan penghasil gandum peringkat 3 dunia dengan produksi 85,9 juta ton pada tahun 2020. Tahun yang sama Ukraina penghasil gandum peringkat 8 dunia dengan produksi 24,9 juta ton. Kenaikan harga gandum selama 2022, bukan karena produktivitas turun, melainkan karena distribusi yang terhambat akibat pandemi, kemudian disebabkan perang. Produksi pangan 2022/2023 kemungkinan juga akan terus naik. Produksi beras Indonesia pun juga terus naik, karena pembukaan lahan baru, waduk baru, dan efisiensi. Hanya kaum paranoid yang menganggap tahun 2023 akan terjadi krisis pangan global. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
