INVESTASI AGRO
by indrihr • 20/12/2022 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Tergiur iming-iming investasi porang, sebelum pandemi tabungan saya bobol untuk saya kerjasamakan dengan petani pemilik lahan. Pas pandemi saya kena PHK. Lalu modal saya ambyar karena harga porang jatuh. Bagaimanakah idealnya bentuk kerjasama agro? (Usep, Bekasi).
Sdr. Usep, pertama-tama saya sampaikan empati saya, akan nasib Anda. Sejak 2016, memang ada booming porang, yang sebelumnya lebih populer dengan nama iles-iles, Amorphophallus muelleri. Porang itu komoditas lama. Dari zaman Belanda, orang sudah memanen porang dari hutan jati, dijual ke etnisitas Tionghoa, dibuat keripik, lalu diekspor ke Jepang. Volume dan nilai ekspor keripik porang sangat kecil dibanding volume dan ekspor komoditas lain seperti teh, kopi, kakao, gula tebu, tembakau dll.
Di Jepang, keripik porang ditepungkan, lalu diekstrak (dipisahkan) menjadi serat kasar, pati dan glukomanan. Glukomanan itu serat pangan, berupa karbohidrat non pati yang larut dalam air. Karena bukan pati, glukomanan nyaris nol kalori, tetapi enak dan mengenyangkan. Di Jepang, menu dari glukomanan disebut konnyaku dan shirataki. Orang Jepang sudah mengenal glukomanan yang diekstrak dari umbi konjac, Amorphophallus konjac sejak 1776. Konjac masih satu genus dengan porang, tetapi hanya bisa tumbuh di kawasan sub tropis.
Konjac berasal dari Yunnan, China. Di negeri ini konjac hanya digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi sembelit. Abad ke 8 konjac diintroduksi ke Jepang sebagai bahan obat tradisional. Antara abad 12 – 13, orang Jepang mencoba membuat daging sintetis dari umbi konjac untuk dikonsumsi kaum vegan dalam ritual di kuil Shinto dan Buddha. Dari sinilah ditemukan teknologi ekstraksi glukomanan. Kemudian glukomanan bukan hanya dibuat daging sintetis, melainkan untuk konnyaku dan shirataki.
Akhir abad 20 konnyaku dan shirataki masuk ke China dan menjadi trend menu sehat untuk penderita diabetes dan mencegah obesitas. Akibatnya permintaan glukomanan tumbuh dengan sangat pesat, lalu pabriknya dibangun di Indonesia, dan permintaan porang meningkat dengan tajam. Itulah penyebab booming porang sejak 2016 sampai dengan awal pandemi 2020. Waktu booming itulah sekelompok petani porang menjual benih berupa umbi atas (katak, bulbil) dengan harga sampai Rp 300.000 per kilogram.
Harga umbi porang untuk diolah jadi keripik dan glukomanan, juga naik. Kalau sebelumnya hanya Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per kilogram, pelan-pelan bergeser antara Rp 3.000 sampai Rp 8.000 per kilogram. Pernah sampai Rp 13.000 per kilogram, tetapi tak lama kemudian pandemi, hingga banyak bisnis ambruk, termasuk bisnis porang. Aslinya, porang hanya diambil dari hutan, terutama hutan jati. Jadi tak ada biaya mengolah lahan, benih, pupuk dll. Jadi dijual dengan harga Rp 500 per kilogram pun masih oke.
Ketika porang dibudidayakan secara intensif dengan mengolah lahan, dengan benih katak seharga Rp 250.000 per kilogram, dengan mulsa plastik hitam perak, pupuk, irigasi drip, bahkan ada yang pakai paranet; biaya jadi membengkak. Tapi tak apa-apa, karena para investor ini; termasuk Anda; juga berharap bisa menjual katak dengan harga Rp 300.000 per kilogram. Kalau toh harga katak jatuh sampai Rp 100.000, juga masih untung. Itulah bayangan sebagian besar investor. Mereka tak tahu bahwa harga katak normal, hanya sekitar Rp 30.000 – Rp 40.000 per kilogram, sesuai dengan harga glukomanan yang sekitar Rp 200.000 per kilogram.
Tentang investasi agro yang Anda tanyakan, rumusnya sederhana. Jangan serahkan uang ke orang yang baru saja anda kenal, tanpa perjanjian hitam di atas putih dengan jaminan (koleteral). Perjanjian di depan notaris pun tak ada gunanya kalau tak ada koleteral. Yang benar, kalau ada orang menawarkan lahan dan skill untuk budidaya porang, lahannya disewa, skill-nya dibayar. Sewa lahan dan honor konsultan sangat jelas. Bukan Anda menyerahkan uang dengan perjanjian bagi hasil. Bagi hasil itu bukan sekadar bagi-bagi laba, melainkan juga bagi-bagi resiko kerugian.
Jadi semua wajib Anda urus sendiri. Kalau modalnya sudah sampai M, mestinya bisa dibayar tenaga full timer untuk mengurus budidaya apa pun selain porang. Mengapa porang jangan? Karena tak akan bisa bersaing dengan porang liar yang tumbuh di hutan jati Perum Perhutani. Petani binaan Perum Perhutani ini tak perlu beli bibit, tak perlu mengolah lahan, tak perlu pupuk dll. Pas musim kemarau mereka datang ke hutan jati lalu mengambil umbi yang sudah di atas 500 gram. Dibeli tengkulak Rp 1.000 per kilogram pun tak apa-apa. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
