MARI MAKAN SORGUM DAN UBI JALAR
by indrihr • 20/05/2024 • Uncategory • 0 Comments
Karena harga beras naik, Mendagri Tito Karnavian mengajak masyarakat makan sorgum, ubi jalar, sukun dan sagu. https://money.kompas.com/read/2023/10/04/090940526/harga-beras-naik-mendagri-minta-masyarakat-beralih-ke-ubi-hingga-sukun Mungkinkah ajakan Mendagri itu bisa diterapkan?
Kenaikan harga beras bukan hanya terjadi tahun 2023 sekarang ini. Tahun 2000, harga beras medium di DKI Jakarta Rp 2.800 per kilogram. Tahun 2020 harga beras medium di DKI Jakarta sudah Rp 9.800 per kilogram. Berarti selama 20 tahun telah terjadi kenaikan harga beras sebesar Rp 7.000 per kilogram, atau 250%. Konsumen beras tetap membelinya karena stok tersedia dan daya beli masyarakat cukup kuat. Awal tahun 2023 harga beras medium di DKI Jakarta Rp 12.000 per kilogram dan Oktober 2023 Rp 13.000 per kilogram. Ada kenaikan harga Rp 1.000 per kilogram atau 8,3%.
Tahun 2020 dan 2021 stok beras nasional juga cukup dan kenaikan harga hanya Rp 1.000 per kilogram. Tetapi waktu itu bersamaan dengan pandemi Covid-19, daya beli masyarakat melemah. Karenanya pemerintah membuat program bantuan sosial (Bansos). Sebab meskipun persediaan cukup dan harga tetap, apabila daya beli masyarakat melemah, pemerintah perlu turun tangan lewat berbagai program, agar daya beli masyarakat menguat. Akibat pandemi Covid 19, selama 2020 dan 2021 banyak perusahaan dan bisnis UMKM tutup, karyawan di PHK hingga daya beli masyarakat melemah.
Selama 23 tahun sejak 2000 sampai 2023, harga barang kebutuhan pokok terus naik. Tetapi penghasilan masyarakat juga ikut naik. Persediaan kebutuhan pokok juga cukup. Tahun 2022 minyak goreng sawit sempat menghilang dari pasar. Padahal Indonesia merupakan penghasil sekaligus eksportir minyak sawit terbesar dunia. Menghilangnya minyak goreng dari pasaran pasti disengaja untuk tujuan politik. Tak lama kemudian Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi diganti Zulkifli Hasan dan minyak goreng kembali ada di pasaran. Beras pun punya potensi untuk menghilang dari pasar seperti minyak goreng.

Oleh sebab itu, pemerintah melalui Bulog selalu punya cadangan beras pemerintah (CBP) minimal 1,5 juta ton per tahun. Apabila tidak digunakan, CBP akan dijual sebagai beras murah, digiling menjadi tepung atau sebagai pakan ternak. CBP didapat Bulog dari membeli gabah petani atau impor. Jadi meskipun produksi beras nasional cukup, apabila tak bisa membeli gabah petani setara 1,5 juta ton, Bulog akan impor. Untuk menghindari beras menghilang seperti minyak goreng, menjelang Pemilu impor beras dilebihkan. Tahun 2023 ini pemerintah merencanakan impor 2,2 juta ton beras.
Pangan Non Beras Justru Mahal
Saran Mendagri Tito Karnavian agar rakyat mengonsumsi sorgum, ubi jalar, sukun dan sagu sebagai pengganti beras tidak mungkin terwujud, karena ketersediaan empat jenis bahan pangan itu sangat kecil, harganya juga tinggi. Sebagai perbandingan beras kualitas baik di warung dekat rumah sebelumnya Rp 12.000 per liter. Sekarang naik jadi Rp 13.000 per liter. Produksi beras nasional 34 juta ton. Konsumsi 32 juta ton. Produksi sorgum nasional hanya 6.000 ton. Harga sorgum Rp 40.000 per kg, apabila dibelikan beras kualitas baik @ Rp 13.000 per kg sudah mendapat 3 liter.
Produksi ubi jalar nasional 1,8 juta ton. Harga ubi jalar per kg 13.000 (basah), setara dengan beras 1/2 liter. Produksi sukun Indonesia hanya 12.000 ton. Harga sukun per buah bobot 1,5 kg Rp 30.000. Produksi sagu nasional hanya 3.000 ton. Harga sagu paling murah Rp 22.000 per kg. Sekarang sorgum, ubi jalar, sukun dan sagu sudah menjadi komoditas mahal dan dikonsumsi oleh masyarakat kelas atas. Jadi tidak mungkin sorgum, ubi jalar, sukun dan sagu dijadikan sebagai pengganti beras. Pertama, karena dari empat komoditas pangan itu, hanya ubi jalar dan sukun yang ada di pasaran. Kedua harganya justru lebih tinggi dari beras.
Mereka yang kesulitan membeli dan memasak beras, sekarang justru beralih ke mi dan roti yang terbuat dari gandum. Memasak dan mengonsumsi mi instan lebih mudah dan lebih murah dibanding memasak dan mengonsumsi beras. Akibatnya impor gandum Indonesia rata-rata sebesar 10 juta ton per tahun, dengan nilai Rp 30 triliun. Sebab gandum hampir tak mungkin dibudidayakan di Indonesia. Andaikan dipaksakan, kualitasnya akan sangat rendah, tetapi dengan biaya produksi lebih tinggi dibanding harga gandum impor. Gandum merupakan bahan pangan kedua Bangsa Indonesia setelah beras.
Tanpa disuruh-suruh, sebenarnya masyarakat sudah berdversifikasi pangan. Selain baras, roti dan mi; rakyat Indonesia sudah umum mengonsumsi bakso, pempek, siomai dan sosis. Empat jenis pangan itu berbahan baku pati singkong (tapioka), dengan tambahan daging atau ikan. Produksi singkong nasional Indonesia sebesar 18 juta ton, peringkat lima dunia setelah Nigeria, Rapublik Kongo, Thailand dan Ghana. Sedemikian besarnya konsumsi bakso nasional, hingga Indonesia rutin impor tapioka dari Thailand rata-rata 500.000 ton per tahun, bahkan pernah sampai satu juta ton.
Indonesia juga memproduksi jagung sebanyak 20 juta ton, peringkat sembilan dunia. Sama dengan negara-negara lain, jagung Indonesia juga untuk pakan unggas, terutama ayam pedaging dan petelur. Deversifikasi pangan tak harus beralih dari beras ka sorgum atau ubi jalar, melainkan bisa mengurangi konsumsi karbohidrat dan gula, memperbanyak konsumsi protein nabati/hewani, sayuran dan buah-buahan. Mengingat Indonesia sudah masuk ke daftar negara dengan obesitas peringkat 159. Tapi mengingat populasi kita 274 juta jiwa, obesitas 6,9% karena kebanyakan karbohidrat itu mencapai 12 juta jiwa. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
