YUM-YUM TREE BUKAN KEBEN
by indrihr • 16/08/2024 • Uncategory • 0 Comments
Saya baru saja pulang dari Vanuatu. Di sana saya sempat makan buah keben. Ternyata enak seperti makadamia. Mengapa di sini tak ada yang mengonsumsi buah keben? Apakah karena tidak tahu bahwa bijinya enak? (Yance, Manado)
Sdr. Yance, yang Anda makan di Vanuatu, bukan biji keben, butun, fish (sea) poison tree, Barringtonia asiatica; melainkan yum-yum (yum-yum tree), cut nut, pao nut, boxfruit tree, heart tree. Di Fiji yum-yum disebut vutu, vutukala, kutuvala and vana. Nama botaninya Barringtonia edulis masih sama-sama genus Baringtonia dengan keben. Di Vanuatu dan Fiji, nama vutu digunakan untuk menyebut yum-yum sekaligus keben. Barangkali itulah yang menyebabkan Anda mengira yang dikonsumsi di Vanuatu biji keben.
Meskipun masih sama-sama genus Baringtonia suku Lecythidaceae; yum-yum dan keben sangat jauh berbeda. Yum-yum berupa perdu, keben pohon besar. Biji yum-yum biasa dikonsumsi sebagai bahan pangan di Kepulauan Pasifik, hingga nama botaninya Baringtonia edulis (edible). Seluruh bagian tanaman keben termasuk bijinya beracun. Karenanya keben disebut fish (sea) poison tree. Biji keben biasa digunakan untuk meracun ikan seperti halnya akar tuba, Derris elliptica. Jadi tidak mungkin biji keben dikonsumsi manusia.

Ukuran dan penampilan buah yum-yum mirip dengan Barringtonia papuana, yang buahnya jadi makanan kasuari dan dikenal sebagai tanaman hias eksklusif. Tanaman setinggi dua meter itu di marketplace Indonesia ditawarkan seharga Rp1,5 juta per pohon. Yang masih 30 senti Rp 350.000 per tanaman. Bedanya, buah yum-yum tumbuh di ujung ranting berupa untaian (dompolan) memanjang ke bawah. Sedangkan buah Barringtonia papuana tumbuh menempel di batang pohon. Tajuk Barringtonia papuana berbentuk seperti payung, dengan pucuk kecoklatan. Tajuk Barringtonia edulis tak beraturan.
Di Indonesia dan Malaysia, keben juga sering disebut putat. Ini juga membingungkan sebab putat, Planchonia valida genus Planchonia, beda dengan Barringtonia; meskipun masih sama-sama suku Lecythidaceae. Awalnya keben disebut putat laut untuk membedakannya dengan putat biasa dan putat sungai, songgom, powder-puff tree, Barringtonia racemosa. Pelan-pelan dari putat laut berubah menjadi putat. Jadi ada tiga tumbuhan dengan nama putat, yakni putat asli Planchonia valida, putat air Barringtonia racemosa dan putat laut Barringtonia asiatica.
Pucuk daun putat biasa dan putat air merupakan lalap. Putat merupakan salah satu lalap Sunda guna menetralisir pedasnya cabai dalam sambal, karena kandungan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid yang cukup tinggi. Di Malaysia, putat air Barringtonia racemosa lebih populer sebagai lalap. Meskipun di Jawa Barat maupun di Malaysia putat maupun putat air sama-sama digunakan sebagai lalap, karena penampilan dan rasanya sama. Belakangan lalap pucuk putat dan putat sungai jarang ditemukan di restoran dan warung Sunda.
Genus Barringtonia beranggotakan 72 spesies yang tersebar di daratan yang berbatasan dengan Samudera Hindia dan Pasifik. Keben dan Barringtonia papuana lebih banyak digunakan sebagai tanaman hias. Meskipun tumbuhan pantai, keben masih mau tumbuh baik di elevasi 584 meter dpl. di tengah kota Sukabumi. Sebagai tumbuhan pantai, biji genus Barringtonia dilapisi oleh sabut dan tempurung yang keras. Mirip dengan buah bintaro, Cerbera manghas suku Apocynaceae.
Umumnya buah tumbuhan pantai termasuk kelapa, berlapis sabut agar bisa terapung di laut. Tempurung yang keras untuk melindungi biji, terutama embrio agar tidak rusak. Biji-biji yang mengapung di laut itu akan terbawa ombak ke mana-mana, kemudian terdampar di pantai lalu tumbuh menjadi individu tanaman baru. Tidak semua tumbuhan pantai menyebarkan biji dengan memanfaatkan gelombang laut. Ada juga yang memanfaatkan burung laut. Misalnya wijayakusuma, the grand devil’s-claws, Pisonia grandis.
Buah (biji) wijayakusuma the grand devil’s-claws mengeluarkan “perekat” hingga malai biji kering itu menempel di bulu camar uban, black noddy, Anous minutus. Burung akan membawa biji ini ke pulau lain. Kalau si burung camar uban bisa melepaskan malai biji wijayakusuma, dia akan selamat. Kalau malai biji wijayakusuma itu merekatkan bulu-bulu sayap, si burung akan jatuh ke pasir dan segera mati dimangsa semut. Biji wijayakusuma akan tumbuh di tempat baru.
Jadi jelas, yum-yum di Vanuatu bukan keben. Sekarang yum-yum sudah menyebar ke mana-mana tidak hanya di seluruh Kepulauan Pasifik tetapi juga sampai ke Kepulauan Indonesia termasuk Jawa. Di luar Kepulauan Pasifik, yum-yum lebih banyak ditanam sebagai pohon hias, sama dengan Barringtonia papuana. Bedanya yum-yum menarik karena bunganya. Sedangkan Barringtonia papuana menarik karena warna/bentuk tajuk serta buahnya yang menempel di batang pohon. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
