• ANGGREK EKOR TUPAI

    by  • 09/09/2024 • Uncategory • 0 Comments

    Dekade 1980 tanaman jati di sepanjang tepi jalan Majenang – Wangon, Jawa Tengah, baru berumur 10 tahun. Tetapi di batang jati muda itu sudah tumbuh anggrek ekor tupai (buntut bajing, foxtail orchid, Rhynchostylis retusa). Tiap Desember – Februari bunganya bermekaran menjuntai mirip ekor tupai.

    Saat bunganya bermekaran inilah anggrek ekor tupai itu dijarah untuk diperdagangkan. Anggrek-anggrek itu tumbuh di batang pohon jati hanya beberapa meter dari tanah hingga mudah dijangkau untuk diambil. Padahal harga anggrek ekor tupai relatif murah. Pada tahun 2024, harga jenis anggrek ini berkisar antara Rp 10.000 sampai Rp 100.000 per tanaman. Dari penampilan foto yang ditampilkan di marketplace, tampak tanaman tersebut hasil cabutan dari alam, bukan hasil penangkaran. Berarti sampai sekarang penjarahan anggrek ekor tupai untuk diperdagangkan masih terus berlangsung.

    Sebagian besar anggrek cabutan dari alam yang diperjual-belikan, akan berakhir di pembeli awam yang tak mampu merawat hingga tanaman itu mati. Hanya satu dua yang terbeli oleh kolektor dan tetap hidup. Faktor inilah yang menyebabkan terkikisnya anggrek-anggrek spesies penting di Indonesia. Selain karena habitat aslinya dirusak manusia, penjarahan merupakan faktor yang ikut mempercepat punahnya anggrek. Dulu Cianjur Selatan merupakan “gudangnya” anggrek bulan jawa Phalaenopsis javanica yang berhabitat asli Sumatera dan Jawa. Sekarang anggrek ini sudah lenyap dari Cianjur Selatan.

    Phalaenopsis javanica diburu secara intensif karena bernilai tinggi di luar negeri. Anggrek ini rentan perubahan agroklimat, meskipun tidak seekstrim Cymbidium hartinahianum yang hanya mau tumbuh di elevasi 1.700 meter dpl. Phalaenopsis javanica bisa beradaptasi di dataran menengah bahkan rendah. Perburuan anggrek ekor tupai tak seserius perburuan anggrek bulan jawa karena faktor nilai ekonomisnya. Terlebih lagi anggrek ekor tupai memiliki daya survival tinggi di pohon jati. Pohon-pohon jati muda pun dengan cepat ditumbuhi anggrek ekor tupai di batang dan cabangnya.

    Meskipun bisa tumbuh di pohon lain, anggrek ekor tupai paling banyak dijumpai di pohon jati. Di habitat yang tepat, pertumbuhan dari kecambah sampai jadi tanaman dewasa juga cukup pesat. Hanya dalam satu sampai dua tahun pohon jati yang sebelumnya kosong sudah tampak ditumbuhi anggrek ekor tupai. Hunters juga cerdik, tidak langsung mengambil tanaman yang belum berbunga. Pada awal musim penghujan, tanaman dengan bunga itu akan dibetot, ditaruh di bonggol kayu lalu ditawarkan ke konsumen dengan harga di atas Rp 100.000 per tanaman. Semakin banyak bunganya, semakin tinggi harga yang ditawarkan.

    Indikator Perbaikan Lingkungan

    Anggrek merupakan salah satu indikator perbaikan lingkungan. Bulan Agustus tahun lalu, tak sengaja saya lihat anggrek ekor tupai tumbuh merimbun di beberapa pohon jati di tempat ziarah umat Katolik Gua Maria Bukit Kanada di Rangkasbitung. Tempat ziarah ini dibangun tahun 1988, hingga pohon jati yang sudah cukup besar itu paling tidak sudah berumur 30 tahun. Di Banten yang berkelembapan tinggi, jati bisa tumbuh lebih cepat dibanding tanaman dengan umur sama di Jateng dan Jatim. Karena pohon jatinya sudah cukup tua, rumpun anggrek yang tumbuh di pohon ini juga sudah berukuran cukup besar.

    Waktu melihat anggrek liar di pohon jati pada Agustus tahun lalu, saya masih belum tahu jenisnya. Sebab sosok tanaman anggrek ekor tupai memang mirip dengan anggrek kuku macan, Aerides odorata. Tahun 2023 daerah Jakarta dan sekitarnya baru hujan pada awal Desember. Perkiraan saya anggrek liar di Rangkasbitung itu akan keluar kenop (tunas bunga) pada bulan Januari. Saya baru sempat menengok rumpun anggrek liar itu pada Minggu 28 Januari 2024. Ternyata sebagian besar rumpun anggrek itu sudah dipenuhi bunga. Ada yang masih kuncup, ada yang sudah mekar dan ada pula yang sudah rontok.

    Dari penampilan bunganya ketahuan bahwa anggrek liar di pohon jati di tempat ziarah Rangkasbitung ini jenis ekor tupai dan bukan kuku macan. Meskipun bentuk bunganya juga mirip, kuntum anggrek ekor tupai tumbuh lebih lebat di malai bunga. Tempat-tempat ziarah dengan pohon-pohon besar memang bisa menjadi semacam oasis bagi anggrek dan hoya. Karena ramai pengunjung dan dijaga, hunters anggrek tak berani menjarahnya. Pohon-pohon di tempat ziarah Gunung Kawi, di Malang, Jawa Timur; malah sengaja ditanami anggrek Vanda tricolor dan aman tak ada yang menjarah.

    Pohon-pohon besar di makam Bosscha di Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan, Bandung; juga ditumbuhi anggrek liar Vanda tricolor. Anggrek di makam Bosscha ini aman dari penjarahan juga karena ukuran pohonnya sudah terlalu besar untuk bisa dipanjat tanpa alat bantu. Banyaknya populasi anggrek ekor tupai di pohon jati, menunjukkan adanya perbaikan lingkungan di Pulau Jawa. Sejalan dengan itu satwa liar seperti ular piton dan elang jawa, yang pada dekade 1980 pernah tak kelihatan, belakangan kembali banyak. Ini juga merupakan indikasi membaiknya lingkungan di Pulau Jawa.

    Anggrek ekor tupai merupakan salah satu spesies dari empat spesies genus Rhynchostylis: Rhynchostylis cymifera; Rhynchostylis gigantea; Rhynchostylis retusa; dan Rhynchostylis rieferi. Habitat asli anggrek ekor tupai membentang dari Nepal, India, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, China dan Filipina. Di Indonesia anggrek ekor tupai hanya berhabitat asli di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Warna bunga anggrek ini bervariasi antara dominan putih, pink sampai kemerahan. Meskipun sudah banyak hibridanya, anggrek ini tetap tak sepopuler Dendrobium dan Phalaenopsis. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *