• MEMASAK BERAS BARU SETIAP HARI

    by  • 26/09/2024 • Uncategory • 0 Comments

    Seorang teman mengeluh karena sulit mendapatkan beras baru. Beli pandanwangi di pasar, awalnya dapat beras baru. Belakangan dapatnya pandanwangi simpanan lama. Nasinya jadi pera, wangi dan pulennya hilang. Di pasaran baru ada satu dua merk beras kemasan yang mencantumkan tanggal penggilingan.

    Di mana pun di dunia yang disimpan gabah. Baik gabah beras maupun gandum. Gabah digiling tiap hari sesuai dengan kebutuhan pasar. Sayangnya di Indonesia Bulog maupun pedagang besar menyimpan beras bukan gabah. Disimpan lebih dari dua bulan pun beras akan menurun kualitasnya. Terlebih disimpan satu sampai dua tahun. Dijamin akan bulukan. Beda dengan gabah atau malai padi, yang tahan disimpan sampai tiga tahun tanpa penurunan kualitas yang berarti. Makanya zaman dulu masyarakat tradisional punya tiga lumbung tempat menyimpan malai padi.

    Lumbung 1 untuk menyimpan padi hasil panen dua tahun lalu yang sedang dikonsumsi tahun ini. Lumbung 2 menyimpan padi hasil panen tahun lalu untuk dikonsumsi tahun depan. Lumbung 3 kosong karena berisi padi hasil panen tiga tahun lalu, dan habis dikonsumsi tahun lalu. Lumbung 3 akan diisi padi hasil panen tahun ini. Demikian seterusnya hingga mereka bisa terus mengonsumsi beras baru yang ditumbuk tiap hari atau seminggu sekali. Dalam masyarakat subsisten, semua keluarga menanam padi ladang atau sawah dan menyimpannya dalam lumbung untuk dikonsumsi sendiri.

    Dalam masyarakat modern, gabah padi dan gandum petani dibeli oleh pedagang atau koperasi lalu dikeringkan dengan alat pengering (dryer). Sebab puncak musim panen padi, gandum dan jagung selalu pas musim hujan. Setelah kering dengan kadar air antara 11 – 14%, gabah disimpan dalam silo. Memasukkan gabah baru dari atas dan mengambilnya dari bawah. Hingga gabah yang masuk terlebih dahulu selalu dikeluarkan lebih awal dibanding yang masuk belakangan. Penggilingan gabah atau malai padi menjadi beras juga dilakukan tiap hari sesuai dengan kebutuhan pasar.

    Di Indonesia Bulog dan pedagang besar justru menyimpan beras. Yang menyimpan gabah malah pedagang menengah. Mereka sekaligus sebagai pemilik penggilingan padi dan pemodal budidaya padi. Mereka menyimpan gabah atau malai padi dengan tujuan penggilingan miliknya bisa terus beroperasi sepanjang tahun. Kapasitas mesin giling mereka juga kecil. Merekalah yang berani mencantumkan tanggal, bulan dan tahun penggilingan di kemasan produk, hingga konsumen yang jeli akan meneliti sudah berapa lama beras itu ada di gerai swalayan. Beras curah hanya bisa diketahui baru atau lama lewat aromanya.

    Mesin Giling Mini

    Belakangan di pasaran ditawarkan mesin giling gabah mini dengan penggerak listrik. Harga mesin giling gabah mini ini berkisar antara Rp 2 juta sampai dengan Rp 5 juta bergantung kapasitas giling dan spek yang menyertainya. Ukuran mesin giling ini cukup kecil hingga memungkinkan ditaruh serta dioperasikan di dalam rumah. Dengan adanya mesin giling mini ini, rumah tangga dimungkinkan untuk belanja gabah atau padi ke petani atau pedagang. Zaman digital ini pembeli tidak perlu datang ke sawah yang sedang panen, tetapi cukup memesan lewat WA, transfer uang lalu gabah akan datang sesuai dengan pesanan.

    Saat ini marketplace Indonesia baru sebatas menjual gabah/padi sebagai benih. Gabah/padi konsumsi masih belum lazim ditawarkan di marketplace. Sebab mesin giling padi mini juga masih relatif baru hingga belum banyak rumah tangga yang memilikinya. Mereka yang tinggal di kota besar, biasanya punya kontak petani padi di desa kelahiran mereka atau suami/istri mereka. Dari sinilah bisa diperoleh kontak petani atau pedagang pemilik gabah. Jangan membeli gabah basah (kering panen), melainkan yang sudah dijemur (gabah kering giling), agar tidak repot mengeringkannya.

    Apabila masing-masing konsumen punya mesin giling mini dan membeli gabah langsung dari petani, rantai perdagangan yang cukup panjang dengan biaya off farm-nya yang cukup tinggi bisa dipangkas. Petani diuntungkan karena bisa menjual gabah dengan nilai lebih tinggi. Konsumen juga diuntungkan karena bisa membeli gabah dengan harga lebih murah dan sekaligus bisa mendapatkan beras yang selalu baru. Dalam satu komunitas, misalnya Rukun Tetangga (RT), kantor, atau komunitas keagamaan; bisa dibeli satu mesin giling, lalu secara kolektif membeli gabah dari petani di pedesaan.

    Kualitas beras Indonesia diatur dalam SNI (Standar Mutu Indonesia) 6128:2015 Tentang Beras, yang kemudian diperbarui dengan SNI 6128:2020. Tetapi di Indonesia SNI hanya diwajibkan bagi beras premium. Beras biasa tidak diwajibkan mengikuti SNI. Hingga konsumen tak pernah tahu, sudah berapa lama beras yang dibelinya berada di gudang dan di gerai. Konsumen baru tahu bahwa beras yang dibelinya berkualitas buruk setelah sampai di rumah dan kemasan dibuka. Hingga sebenarnya konsumen beras curah lebih dimungkinkan untuk mengetahui kualitas beras yang akan dibelinya karena bisa menyentuh dan membauinya di pedagang beras.

    Di kalangan pedagang beras sudah ada rumus, bahwa beras lama yang sudah rusak akan kembali disosoh, kemudian dicampur beras baru dan disemprot esense pandan. Jadi apabila bertemu beras murah tetapi aroma pandannya sangat kuat, kita harus curiga itu beras oplosan. Sebab harga beras pandan wangi Karawang dengan butiran lebih panjang, sudah Rp 18.000 per kilogram. Pandanwangi Cianjur dengan butiran lebih bulat Rp 25.000 per kilogram. Aroma pandan wangi Karawang dan Cianjur juga tidak setajam aroma esense beras oplosan. Di Indonesia konsumen memang pihak yang paling sering dirugikan. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *