REBUNG BAMBU SAYUR
by indrihr • 10/10/2024 • Uncategory • 0 Comments
Di marketplace ditawarkan bibit bambu mayan penghasil rebung sayur. Bukankah rebung bambu memang untuk disayur? Meskipun digunakan sebagai isi lumpia, tetap saja sebutannya sayur. Ternyata selain untuk sayur, rebung juga untuk obat tradisional.
Masih di marketplace, ditawarkan rebung bambu kuning, tanpa sebutan sayur. Rebung bambu kuning ini diyakini masyarakat bisa untuk obat tradisional bagi aneka macam penyakit. Yang dimaksud bambu kuning Bambusa vulgaris bukan bambu kuning bali Schizostachyum brachycladum. Bambu kuning Bambusa vulgaris sebenarnya sama dengan bambu ampel. Bedanya, bambu ampel berbatang hijau. Bambu kuning bali Schizostachyum brachycladum juga sama dengan bambu talang (bambu lemang). Bedanya bambu talang berbatang juga hijau. Karena tidak lazim dikonsumsi, rebung bambu kuning ini ditawarkan sebagai obat tradisional.
Karena yang dominan di marketplace rebung bambu kuning untuk obat tradisional, maka bibit bambu mayan ditegaskan sebagai penghasil rebung sayur. Bambu mayan, Gigantochloa robusta, sebenarnya bukan satu-satunya penghasil rebung sayur enak. Genus Gigantochloa suku rumput-rumputan Poaceae yang terdiri dari 64 spesies, memang dikenal sebagai penghasil rebung enak. Selain bambu mayan, penghasil rebung enak lainnya bambu ater, Gigantochloa atter; bambu gombong, Gigantochloa verticillata; bambu hitam Gigantochloa atroviolacea; bambu suluk, Gigantochloa levis; bambu manggong, Gigantochloa manggong dan bambu tabah, Gigantochloa nigrociliata.

Tidak semua spesies dalam genus Gigantochloa menghasilkan rebung enak. Rebung bambu apus (bambu tali), Gigantochloa apus sangat pahit hingga dengan perlakuan apa pun tidak edible. Sedangkan bambu suluk, yang juga dikenal sebagai “petung kalimantan” Gigantochloa levis, terkenal sebagai penghasil rebung paling enak di antara spesies lain dalam genus Gigantochloa. Meskipun disebut “petung kalimantan” sebenarnya habitat asli bambu suluk bukan hanya Kalimantan melainkan juga di China Selatan, Tengah dan Tenggara; Semenanjung Malaya, Maluku, Filippina, Sulawesi, Sumatera dan Vietnam.
Bambu mayan, bambu ater, bambu gombong, bambu hitam, bambu suluk, bambu manggong dan bambu tabah; tepat untuk dibudidayakan sebagai penghasil rebung sayur karena tinggi batang dan ukuran rumpunnya tak setinggi dan sebesar bambu petung (betung), Dendrocalamus asper. Bambu petung kita, bersama dengan bambu naga, Dendrocalamus sinicus dan bambu raksasa, Dendrocalamus giganteus dikenal sebagai bambu tinggi, dengan diameter batang dan rumpun sangat besar. Demikian pula ukuran rebungnya. Spesies dalam genus Dendrocalamus juga dikenal menghasilkan rebung enak.
Benih “Cangkokan”
Masyarakat tradisional di Indonesia biasa menanam bambu menggunakan benih anakan hasil pemisahan rumpun (dangkel). Benih hasil pemisahan rumpun tidak mungkin diproduksi secara massal. Selain itu biaya pengambilan dengan membongkar sebagian rumpun juga terlalu tinggi. Karena kendala inilah kemudian muncul ide untuk memperbanyak bambu menggunakan teknologi kultur jaringan. Benih bambu kultur jaringan punya keunggulan karena bisa diproduksi secara massal. Tetapi harga per satuan benih masih terlalu tinggi dibanding dengan benih “cangkokan” dari cabang/ranting.
Di tiap ruas bambu, selalu tumbuh cabang/ranting (carang). Pangkal cabang/ranting ini diberi media sampai tumbuh akar, kemudian dipisahkan dari batang dan ditanam di pot atau polybag sebelum dipindahkan ke lahan. https://www.youtube.com/watch?v=M6kMFDEICgM Cara ini relatif mudah dan murah, serta bisa diperoleh benih dalam jumlah banyak meskipun tidak bisa massal seperti benih kultur jaringan. Para petani di Thailand biasa mencangkok cabang bambu mereka untuk mendapatkan benih guna perluasan areal kebun. Di Indonesia cara perbanyakan bambu dengan “cangkokan” belum banyak diterapkan oleh para penangkar benih.
Budidaya bambu penghasil rebung memang belum membudaya di Indonesia. Hingga pasar benih bambu masih belum terbentuk. Padahal rebung merupakan sayuran yang bisa laku setiap hari sepanjang tahun. Indonesia punya kelebihan bisa menghasilkan rebung segar sepanjang tahun, dengan syarat, rumpun bambu itu ditanam di lahan berpengairan teknis. Thailand sudah lama membudidayakan bambu penghasil rebung untuk memasok China. Sebab China, Korea dan Jepang hanya bisa panen rebung pada musim semi. Selebihnya mereka mengonsumsi rebung kering dan dalam kaleng.
Thailand menangkap peluang ini dengan membudidayakan bambu di lahan berpengairan hingga bisa panen rebung segar sepanjang tahun. Pengertian “rebung segar” sebenarnya bukan rebung mentah masih terbalut seludang, melainkan rebung yang sudah dikupas kemudian dikukus/rebus lalu difrozen. Sebab daya tahan rebung segar mentah hanya beberapa jam kemudian akan berbau pesing. Setelah dikupas/rebus, rebung terhindar dari bau pesing, tetapi tanpa frozen juga akan jadi masam. Agar terhindar dari bau pesing, jangan membeli rebung betung utuh masih berseludang karena tidak ketahuan kapan dipanen.
Meskipun pasar rebung belum terbentuk, tetapi masyarakat mulai tahu bahwa rebung merupakan sayuran sehat. Tanpa perlu dikait-kaitkan dengan khasiat penyembuhan penyakit seperti rebung bambu kuning, masyarakat menyukai rebung. Lumpia isi rebung juga tetap laris manis. Meskipun konsumen ada, pasokan rebung masih bergantung musim. Secara alamiah rebung hanya akan keluar antara Desember – Februari. Kecuali bambu yang sengaja ditanam dengan pengairan khusus untuk dipanen rebungnya. Biasanya dalam satu rumpun paling banyak hanya dipelihara lima batang bambu. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi.
