JERUK SAMBAL PALING MURAH RP 23.000 PER KILO
by indrihr • 02/12/2024 • Uncategory • 0 Comments
Ini harga di marketplace Indonesia. Di atasnya ada yang Rp 28.000, Rp 32.000, Rp42.000, Rp 60.000 sampai yang tertinggi Rp 119.000 per kilogram. Ini harga di tingkat petani, bukan harga eceran di tingkat konsumen.
Karena harga cukup bagus, ada seorang karyawati sebuah perusahaan swasta yang berani menyewa lahan nganggur seluas 500 meter persegi untuk menanam jeruk sambal dalam pot plastik ukuran 60 senti. Dia sudah punya pelanggan yang datang untuk membeli jeruk sambalnya dengan harga Rp 25.000 per kilogram. “Ya lumayanlah kadang seminggu sekali kadang dua minggu sekali panen paling sedikit sekarung. Bobot juga tak tentu. Kadang hanya 50 kilo, kadang lebih.” Dia juga rutin membongkar pot tanaman, mengurai/memotong akar, memangkas cabang, lalu mengganti media tanam.
Pasar jeruk sambal memang tidak sebesar jeruk nipis, terlebih jeruk siam sebagai buah. Tetapi jeruk sambal hampir tak tergantikan untuk sate, soto dan siomay. “Pernah kami mengganti jeruk sambal dengan jeruk nipis pelanggan komplain. Jeruknya kok lain sih?” Karena jeruk sambal bukan hanya dimanfaatkan rasa masamnya, melainkan aromanya. Aroma jeruk sambal juga beda dengan jeruk nipis. Untuk dikucurkan di sambal sate, soto dan siomay memang lebih pas jeruk sambal, bukan jeruk nipis. Kalau hanya diharapkan masamnya, jeruk peras untuk minuman juga sangat masam.
Rasa masam untuk memasak ikan dan daging bahkan banyak sumbernya. Selain jeruk untuk sayur asem juga digunakan asam jawa dan belimbing wuluh. Di Sumatera juga dikenal asam kandis dari buah Garcinia xanthochymus (buah mirip mundu Garcinia dulcis) yang dikeringkan. Juga asam glugur dari buah Garcinia atroviridis yang dikeringkan. Di Kalimantan salak merah Salacca affinis juga dimanfaatkan sebagai sumber rasa masam untuk memasak ikan. Asam jawa sebagai sumber rasa masam malahan lebih mudah diperoleh di warung dibanding dengan jeruk nipis sekali pun.

Buah-buahan sumber rasa masam itu memang juga beraroma sangat khas. Aroma asam jawa, belimbing wuluh, dan salak merah memang juga sangat khas. Bahkan sayur asem menggunakan asam jawa segar (mentah), beda rasanya dengan yang menggunakan asam jawa masak (asam kawak yang sudah lunak), serta beda lagi dengan yang menggunakan belimbing wuluh. Tetapi aroma tiga jenis buah sebagai sumber rasa masam ini sangat lemah hingga bisa dipertukarkan tanpa mengganggu selera penikmat sayur asem. Lain halnya dengan aroma jeruk sambal dan jeruk nipis yang sedemikian kuatnya hingga tak bisa dipertukarkan.
Hibrida Buatan Manusia
Dalam dunia botani, dikenal dua jenis hibrida. Pertama hibrida alam yang dianggap sebagai spesies tersendiri. Serta hibrida ciptaan manusia hasil persilangan yang disengaja. Hibrida ciptaan manusia tidak ada yang permanen dengan sifat-sifat genetik menetap. Apabila terus menerus ditanam dari biji (benih f1, f2 dan seterusnya) akan membuat sifat-sifat unggulnya turun atau hilang dan kembali ke sifat-sifat dua induknya. Jeruk nipis (lime, Citrus × aurantiifolia) merupakan hibrida alam antara jeruk purut (kaffir lime, Citrus hystrix) dengan jeruk sukade (citron, Citrus medica) dengan sifat-sifat genetik permanen.
Jeruk sambal, jeruk limau (Citrus × amblycarpa), merupakan hibrida ciptaan manusia antara jeruk purut (kaffir lime, Citrus hystrix) dengan jeruk keprok (mandarin orange, Citrus reticulata) dengan sifat-sifat genetik yang tidak menetap dan akan kembali ke induknya apabila diperbanyak secara generatif dari biji. Itulah sebabnya ada jeruk sambal yang kecil-kecil dan bagian dalamnya penuh dengan biji. Ini disebabkan karena individu tanaman tersebut hasil perbanyakan secara generatif melalui biji yang sudah f3, f4 atau lebih. Karenanya perbanyakan jeruk sambal harus menggunakan benih vegetatif berupa cangkokan, sambung pucuk atau okulasi dengan batang bawah rough lemon (RL) atau Japanese citrus (JC).
Meskipun jeruk nipis sebagai hibrida alam, perbanyakan benih sebaiknya secara vegetatif menggunakan cangkokan atau sambung pucuk, bukan secara generatif menggunakan biji. Perbanyakan semua spesies tanaman keras sebaiknya secara vegetatif menggunakan cangkokan, sambung pucuk atau okulasi. Sebab perbanyakan secara generatif menggunakan biji potensial akan menyimpang dari sifat-sifat unggul induknya. Kecuali biji vegetatif seperti manggis yang sebenarnya merupakan perkembangan dari embrio induk betina dan bukan hasil polinasi antara induk jantan dengan induk betina.
Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Jeruk Dan Buah Subtropika, di Tlekung, Batu, Jawa Timur telah menghasilkan benih jeruk sambal unggul yang diberi nama Sari Agrihorti. Jeruk sambal unggul Sari Agrihorti telah dilepas oleh Menteri Pertanian melalui SK Pelepasan Varietas Nomor : 150/Kpts/SR.120/D.2.7/10/2015. Bentuk buah jeruk sambal unggul ini gepeng, bukan bulat, dengan warna setelah masak agak kekuningan. Keunggulan Sari Agrihorti terletak pada produktivitasnya. Pada umur tiga tahun produksi buah mencapai 241-250 buah, setara dengan 6,25-7,25 kilogram per tanaman per tahun.
Budidaya jeruk sambal relatif mudah. Benih berupa tanaman dalam polybag setinggi 50 sentimeter hanya Rp20.000 sampai Rp 30.000 per tanaman. Yang jadi masalah justru pemasarannya. Tanpa pasar yang pasti, jeruk sambal hanya akan dihargai kurang dari Rp 5.000 per kilogram. Karyawati perusahaan swasta yang membudidayakan jeruk sambal itu tak berminat untuk memperbesar skala usahanya. “Kalau tanam di lahan dalam skala luas diperlukan upaya pemasaran tersendiri dengan membawa ke pasar. Harga juga akan turun atau malah bisa tak terpasarkan.” # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
