• AYAM KAMPUNG GALUR MURNI

    by  • 21/01/2025 • Uncategory • 0 Comments

    Dekade 1980, dalam perjalanan naik angkot dari Probolinggo ke Ngadisari (Tengger), saya melihat ayam kampung berwarna putih bersih jantan betina di ladang sayuran. Buru-buru saya minta berhenti dan membayar ongkos angkot.

    Dengan zoom saya ambil gambar ayam kampung putih bersih itu. Kepada petani di ladang tersebut saya bertanya, ayam jenis apakah yang sedang bercengkerama di alam pegunungan yang asri ini? Jawab Pak Petani: “Itu ayam broiler yang dilepasliarkan hingga jadi ayam kampung Pak!” Padahal tadi yang saya bayangkan itu ayam kampung galur murni asli Tengger. Seperti ayam Kedu di Magelang, ayam Sentul di Ciamis dan ayam Pelung di Cianjur. Dekade 1980 saya memang masih seorang wartawan muda dengan pengetahuan pas-pasan. Mencari informasi juga tak semudah pada era digital sekarang ini.

    Dekade 1980, ayam pedaging (broiler) dan petelur (layer) memang masih tergolong baru di Indonesia. Yang pertama beternak ayam pedaging dan petelur dalam skala besar Pak Radius Prawiro, Probosutedjo dan Bina Swadaya yang pada dekade 1970 masih bernama Yayasan Sosial Tani Membangun. Tetapi ayam kampung galur murni masih tetap dipelihara di sentra-sentranya. Pada tahun 1986 saya sempat meliput ayam Nunukan di Kalimantan Timur (sekarang Kalimantan Utara). Ayam nunukan berasal dari daratan China yang dikembangkan di Kalimantan Timur secara turun-temurun.

    Sebelum era broiler dan layer, telur dan daging ayam merupakan bahan pangan yang bernilai sangat tinggi. Dalam satu keluarga, satu butir ayam kampung didadar dan dibagi sesuai jumlah anggota keluarga. Selamatan dengan mengundang para tetangga hanya memotong satu ekor ayam yang akan dibagi untuk belasan undangan. Di rumah masing-masing, potongan daging ayam itu masih akan dibagi lagi sesuai jumlah anggota keluarga. Demikian tingginya harga telur dan daging ayam hingga bagi keluarga miskin, dua komoditas itu lebih baik dijual untuk membeli beras yang nilainya juga sangat tinggi.

    Pada pertengahan dekade 1970, makan telur ayam masih sesuatu yang sangat mewah bagi mayoritas keluarga di Indonesia. Terlebih lagi daging ayam. Bahkan pada dekade 1980 daging itik masih tidak laku di pulau Jawa. Hingga itik hanya dipelihara sebagai penghasil telur. Itik jantan dibesarkan selama beberapa hari/minggu lalu dipotong dan dijual sebagai “daging burung”. Itik betina afkir dijual sebagai daging ayam di warung makan. Baru pada dekade 2010 daging itik naik daun dan dipasarkan setara dengan daging ayam. Setelah daging itik laku, penjual daging burung di Jabodetabek menghilang.

    Broiler dan Leghorn

    Masyarakat awam sering menyebut ayam pedaging dengan nama ayam negeri untuk membedakannya dengan ayam kampung. Kadang ayam pedaging juga disebut ayam broiler dan leghorn. Sebutan ini salah kaprah sebab broiler artinya ayam pedaging dengan padanan layer yang berarti ayam petelur. Leghorn merupakan salah satu galur murni ras ayam pedaging. Jadi leghorn hanya salah satu strain ayam broiler, yang jumlahnya ratusan. Sebutan ayam kampung dan ayam negeri sebenarnya juga salah kaprah. Sebab galur murni ayam kampung pun sebenarnya cukup banyak dan punya keunggulan.

    Semua ayam ras unggul di dunia merupakan keturunan dua dari empat spesies ayam dalam genus Gallus yang berasal dari Asia: ayam hutan merah, Gallus gallus dan ayam hutan abu-abu, Gallus sonneratii. Ayam hutan Sri Lanka, Gallus lafayettii dan ayam hutan hijau, Gallus varius sangat sulit untuk didomestikasi. Empat spesies ayam ini baru menyebar ke seluruh dunia paling cepat tahun 400 SM. Hewan kurban Agama Yahudi yang menyertakan burung dara, tak menyebut ayam. Tetapi dalam Injil sudah disebutkan kokok ayam jantan. Hingga diperkirakan ayam menyebar ke Timur Tengah/Eropa pada zaman Romawi.

    Ayam hutan merah Gallus gallus terdiri dari lima subspesies dengan habitat asli paling luas: Gallus gallus bankiva dari Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Filipina; Gallus gallus gallus dari Indochina; Gallus gallus jabouillei dari Vietnam, Laos dan China; Gallus gallus murghi dari India, Nepal, Bhutan dan Bangladesh. Gallus gallus spadiceus dari India, China, Semenanjung Malaya dan Sumatera. Ayam hutan Sri Lanka, Gallus lafayettii sesuai namanya berhabitat asli Sri Lanka. Ayam hutan abu-abu, Gallus sonneratii dari India. Ayam hutan hijau hanya terdapat di Jawa, Bali, Nusa Tenggara kecuali Timor, Sulawesi dan Filipina.

    Kultur Arab yang merasuki masyarakat Indonesia pada awal dekade 2000 bukan hanya menyangkut busana melainkan juga telur ayam. Selain telur ayam kampung dan telur ayam negeri, tiba-tiba ada telur ayam arab. Dalam situs Wikipedia ayam arab disebut “spesies ayam keturunan brakel kriel-silver dari Belgia. Disebut ayam arab karena masuk ke Indonesia dibawa oleh para jemaah haji. Di Eropa, ayam arab dikenal sebagai ayam turki, Gallus turcicus”. Kalau melihat penampilannya, ayam arab merupakan keturunan ayam hutan kelabu, gray junglefowl, Gallus sonneratii dari India. Spesies Gallus turcicus tidak dikenal dalam dunia “perayaman”.

    Semua ayam budidaya, baik ayam broiler dan layer modern maupun ayam-ayam galur murni; bernama botani Gallus domesticus. Dari ayam hutan merah, Gallus gallus; dan ayam hutan abu-abu Gallus sonneratii, dihasilkan galur murni dan final stock Gallus domesticus dengan varian bulu merah kecoklatan, coklat, hitam, putih, dan abu-abu. Ayam pedaging dan petelur modern disebut final stock karena membawa sifat-sifat unggul parent stock, dan grand grand parent stock sebagai induknya. Final stock hanya bisa dibudidayakan satu kali. Ayam broiler “liar” di Tengger yang saya kira ayam kampung itu, berasal dari parent stock. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *