LAMTORO PG79 PENEDUH KOPI
by indrihr • 13/02/2025 • Uncategory • 0 Comments
Dulu kopi diberi pelindung pohon dadap serep, Erythrina subumbrans; gamal, Gliricidia sepium; dan lamtoro, Leucaena leucocephala. Pelindung kopi paling bagus ternyata lamtoro. Kendalanya, bijinya banyak hingga jadi invasif. Solusinya digunakan lamtoro steril (mandul).
Salah satu lamtoro steril/mandul itu kultivar PG79 yang hanya menghasilkan bunga tetapi tak pernah jadi polong. Setelah mekar bunga akan mengering lalu rontok. Sebelumnya, lamtoro peneduh kopi menghasilkan polong dan biji yang kemudian mengering, pecah dan bijinya menyebar ke mana-mana lalu tumbuh menjadi individu tanaman baru. Lamtoro, terlebih lamtoro gung, Leucaena leucocephala subsp. Glabrata; mudah sekali menjadi invasif dan tahu-tahu lahan kosong sudah dipenuhi lamtoro. Spesies ini juga mampu tumbuh sangat cepat dengan batang lebih besar dibanding lamtoro biasa, Leucaena leucocephala subsp. Leucocephala.
Lamtoro steril sebenarnya berasal dari tanaman lamtoro biasa. Secara genetik lamtoro biasa ini diutak-atik menggunakan sinar Gama. Dari rekayasa genetika ini, lamtoro biasa yang menghasilkan polong dan biji, menjadi steril. Gen pembentuk polong dan biji telah dimatikan. Hasilnya tanaman lamtoro ini akan tumbuh normal dan menghasilkan bunga, tetapi bunga tersebut tidak akan pernah menjadi buah, karena gen pembentuk sel betina yang akan menghasilkan polong dan biji sudah tidak ada. Bunga lamtoro steril ini juga akan mekar seperti halnya bunga lamtoro biasa tetapi kemudian mengering dan luruh berjatuhan.
Karena tak manghasilkan biji, lamtoro steril diperbanyak menggunakan teknologi kultur jaringan (tissue culture). Jaringan tumbuhan yang masih sangat muda, misalnya pucuk tanaman, diambil, dipotong-potong jadi sangat kecil, ditaruh dalam tabung erlenmeyer, diberi media lalu digoyang di atas meja goyang (shaking table). Hingga jaringan berubah menjadi khalus yang kemudian dibiakkan dalam botol hingga tumbuh menjadi kecambah. Perbanyakan tanaman menggunakan kultur jaringan bisa menghasilkan benih secara massal. Untuk kebutuhan terbatas, lamtoro steril diperbanyak menggunakan stek cabang.

Sekarang lamtoro steril paling banyak digunakan sebagai peneduh kebun kopi, terutama kebun BUMN, PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Dulu kebun kopi menggunakan peneduh dadap serep, Erythrina subumbrans; gamal, Gliricidia sepium; dan lamtoro fertil, Leucaena leucocephala. Dari tiga tumbuhan itu, lamtoro paling tepat sebagai peneduh karena hanya tumbuh berupa perdu, lembaran daun majemuknya berukuran kecil hingga tajuknya tetap bisa ditembus sinar matahari. Lamtoro juga mampu mengambil N dari udara dan menyimpannya dalam bintil akar hingga lahan kopi bisa lebih subur.
Fungsi Peneduh
Semua spesies kopi (Arabika, Robusta dan Liberika) perlu peneduh. Kopi kultivar Catimor malahan mutlak memerlukan naungan dan pupuk organik yang banyak. Tanpa naungan dan pupuk organik, Catimor akan hiper produktif, berbuah sangat banyak di luar kebiasaan, kemudian mati. Kasus hiper produktif Catimor ini pertama kali ditemukan di Kebun Kalisat Jampit, Kaldera Ijen (PTPN XII). Kultivar Arabika USDA tanaman tahun 1923, disambung dengan Catimor. Kemudian ada beberapa individu tanaman yang tak ternaungi pohon peneduh, dan humus di sekitarnya tergerus aliran air hujan.
Individu Catimor yang kurang naungan dan bahan organik itu berbuah sangat lebat di luar kebiasaan. Tetapi tak lama kemudian tanaman itu mati. Ada beberapa individu Catimor yang hiper produktif kemudian mati. Tetapi Catimor yang cukup naungan dan bahan organik, berbuah biasa dan tidak ada yang mati. Dari situlah disimpulkan bahwa Catimor mutlak perlu naungan dan bahan organik cukup. Pohon peneduh bagi Catimor bukan hanya menyaring sinar matahari, melainkan juga memberi tambahan pupuk organik dari daun yang berjatuhan, serta unsur N yang diambil dari udara dan disimpan dalam bintil akar.
Kelemahan pohon dadap sebagai naungan kopi, ukuran daunnya sangat lebar, arah tajuknya ke atas dan akan menjadi pohon besar. Fungsi naungan untuk mengurangi intensitas sinar matahari tak dimiliki oleh dadap. Gamal berdaun lebih kecil dari dadap, hingga dari bentuk dan ukuran daun, gamal lebih ideal sebagai naungan kopi. Kelemahan gamal, pada musim kemarau saat fungsi naungan diperlukan, gamal justru merontokkan semua daunnya dan berbunga. Hingga gamal sebagai tanaman peneduh malah tak berfungsi pada saat sangat diperlukan karena intensitas sinar matahari kemarau sangat tinggi.
Daun lamtoro berukuran sangat kecil dan terangkai sebagai daun majemuk dalam tangkai dan pelepah. Tajuk lamtoro juga tidak meninggi melainkan rindang. Hingga secara keseluruhan, lamtoro menjadi “paranet alami” yang mampu meredam intensitas sinar matahari menjadi pas untuk proses fotosintesis kopi. Selain itu, lamtoro juga tidak pernah merontokkan daun secara serentak, hingga akan berfungsi sebagai peneduh sepanjang tahun. Kayu lamtoro juga keras dan liat hingga tak mudah patah saat diterjang angin kencang. Kayu gamal, terlebih dadap tidak sekeras dan sekuat lamtoro hingga mudah patah terkena angin.
Lamtoro steril kultivar PG79 juga tidak mempengaruhi aroma kopi seperti halnya lamtoro gung dan sengon laut (jeungjing, Falcataria falcata) yang berpengaruh ke aroma kopi. Kopi terkenal mampu menyerap aroma tumbuhan pelindung yang tumbuh berdekatan. Kopi Robusta yang ditanam di bawah tegakan sengon akan menyerap aroma sengon. Kopi Arabika yang dibudidayakan di bawah tegakan pinus akan menampilkan aroma terpentin. Lamtoro kultivar PG79 yang digunakan dalam skala luas di perkebunan PTPN IX dan XII terbukti tak pernah mempengaruhi aroma kopi. # # #
Artikel pernah ddimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
