KOSAMBI PENGHASIL KUTU LAK
by indrihr • 18/02/2025 • Uncategory • 0 Comments
Seharian menyusuri jalan di Kecamatan Kosambi Tangerang, Banten; tidak juga berhasil menemukan pohon kosambi. Demikian juga saat “blusukan” di Kelurahan Duri Kosambi, DKI Jakarta juga sudah tak bisa melihat pohon kosambi.
Padahal nama kecamatan dan kelurahan di dua provinsi ini berasal dari nama pohon kosambi, kusum tree, Ceylon oak, lac tree, gum lac tree; Schleichera oleosa. Sekarang ini kalau mau melihat pohon kosambi lebih mudah datang ke Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Probolinggo, Jawa Timur. Di sini pohon kosambi sengaja dibudidayakan dalam hutan untuk budidaya kutu lak, Kerria lacca. Kutu lak merupakan bahan pewarna kain wool dan sutera, tetapi juga aman digunakan sebagai pelapis dan pewarna makanan/minuman bernilai tinggi. Harga pewarna dari kutu lak lebih tinggi dibanding bahan pewarna nabati.
Dulu kutu lak merupakan bahan pembuat Shellac yang hanya digunakan sebagai pelapis kayu (pelitur) dengan terlebih dahulu dilarutkan dalam spirtus. Setelah pelapis kayu buatan dari minyak bumi diketemukan, Shellac tak digunakan lagi sebagai pelitur. Tetapi penggunaan Shellac justru meluas dan naik kelas. Yang paling luas penggunaannya untuk bahan wax, lilin pelapis guna mempertahankan kesegaran buah-buahan dan sayuran. Kemudian juga untuk pewarna wool dan sutera alam serta makanan dan minuman. Sebagai serat produk hewani, wool dan sutera alam paling kompatibel diberi pewarna produk hewani.
Sebenarnya wool dan sutera paling banyak diberi warna merah berbahan kutu Cochineal, Dactylopius coccus; yang dibudidayakan di kaktus entong, Indian fig opuntia, prickly pear, Opuntia ficus-indica. Cochineal banyak dibudidayakan di Amerika Serikat bagian selatan dan Meksiko. Cochineal hanya penghasil warna merah, sedangkan kutu lak bisa menghasilkan warna merah, coklat dan hitam. Selain itu, Cochineal dipanen kutunya untuk dikeringkan dan diekstrak zat warna merahnya. Ini mengundang protes kalangan pecinta hewan, juga menimbulkan rasa jijik bagi konsumennya, terutama konsumen lipstick.

Beda dengan Cochineal kutu lak dipanen sekresi berupa resin (getah) yang dihasilkan oleh kutu betina. Resin ini akan menumpuk di ranting tempat budidaya kutu lak. Jadi dalam budidaya kutu lak, si kutu tidak pernah dibunuh seperti pada budidaya Cochineal. Hal sepele ini tampaknya berpengaruh sangat besar ke konsumen elite dunia. Sebab mereka akan minta penjelasan konkrit dan detil hingga bisa mendapatkan ketenangan batin saat menggunakan sebuah produk. Baik itu makanan/minuman, buah yang diberi pelapis wax, lipstic, sampai ke pakaian dari wool dan sutera.
Kosambi Paling Tinggi
Kosambi bukan satu-satunya pohon sebagai inang kutu lak. Kutu ini juga bisa dibudidayakan di pohon pelasa, ploso, flame-of-the-forest, Butea monosperma; putsa, Indian plum, Ziziphus mauritiana; ki hujan, trembesi, rain tree, Samanea saman; gude, pigeon pea, Cajanus cajan dan jarak, barbados nut, Jatropha curcas. Di Indonesia, kutu lak hanya dibudidayakan di pohon kosambi, karena produktivitasnya paling tinggi dibanding dengan pohon-pohon lain. Produktivitas kutu lak di pohon kosambi mencapai 6 – 10 kilogram per tanaman per 10 bulan. Putsa 1,5 – 6 kilogram, dan pelasa hanya 1 – 4 kilogram.
Sebenarnya Indonesia bisa memanfaatkan sentimen orang-orang kaya di dunia maju, dengan mempromosikan Shellac sebagai lebih “berperikebinatangan” dibanding Cochineal. Bagi masyarakat jetset dunia, kesan (image) sangat penting. Terlebih untuk produk yang akan mereka konsumsi (makanan, minuman, buah) dioleskan ke bibir (lipstic) dan mereka kenakan (wool, sutera alam). Brasil satu-satunya negara di dunia yang memproduksi bahan pewarna Bixin dari kesumba keling, galinggem, achiote, Bixa orellana. Sedangkan India produsen utama bahan pewarna Curcumin dari kunyit, Turmeric, Curcuma longa.
Saat ini Bixin dan Curcumin merupakan bahan pewarna makanan dan minuman yang paling banyak digunakan di seluruh dunia karena harganya paling murah. Lipstic murah juga menggunakan bahan pewarna Bixin dan Curcumin. Indonesia sebenarnya bisa konsentrasi memproduksi Shellac dengan membudidayakan kutu lak di pohon kosambi melalui Perum Perhutani, BUMN maupun mengerahkan pemerintah daerah di kawasan kering terutama di NTT. Sebab kualitas dan produktivitas Shellac justru akan tinggi apabila pohon kosambi itu dibudidayakan di kawasan yang ekstrim kering.
Orang sering memberi stigma (stempel) bahwa masyarakat di kawasan kering NTT malas. Untuk mereka diperlukan komoditas yang cocok dengan karakter masyarakat serta alamnya. Budidaya kutu lak di pohon kosambi paling cocok di kawasan kering NTT dibanding komoditas tanaman semusim. Pertama, kosambi memang paling cocok hidup di kawasan yang ekstrim kering. Budidaya kutu lak tak memerlukan energi serta perhatian penuh seperti halnya tanaman semusim seperti sayuran, palawija dan padi. Tetapi hasil berupa rupiah justru lebih besar kutu lak dibanding sayuran, palawija apalagi padi.
Kosambi tak hanya menghasilkan Shellac. Jepang pernah minta minyak biji kosambi ke India, Thailand dan Indonesia. Buah kosambi sendiri sering tampak dijual di kawasan yang masih banyak tumbuhan ini. Kayu kosambi berkalori sangat tinggi setara dengan bakau dan akasia gunung. Hingga budidaya kosambi juga bisa menghasilkan arang, karbon aktif serta cuka kayu. Kosambi merupakan elemen taman dengan penampilan indah. Pucuk daunnya berwarna pink. Di pelataran parkir Gua Maria Kerep, Ambarawa, Kab. Semarang ditanam pohon kosambi yang sudah beberapa kali berbuah. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
