KOMPONEN AIR DALAM BISNIS AGRO
by indrihr • 24/02/2025 • Uncategory • 0 Comments
Selama musim kemarau seperti sekarang ini, air di telaga Merdada, Dieng; menjadi tumpuan hidup para juragan kentang. Bermodalkan pompa berenergi BBM dan jaringan pipa PVC, mereka menyedot air telaga Merdada untuk mengairi kentang di lereng bukit Pangonan dan Semurup.
Kualitas kentang yang dibudidayakan selama musim kemarau lebih baik dibanding produksi pada musim penghujan. Fotosintesis selama musim kemarau lebih optimum karena sinar matahari tak banyak terhalang kabut/mendung. Tetapi selama musim kemarau, kentang menuntut disiram air secara rutin setiap hari. Apabila dihitung sebagai komponen biaya, pengeluaran untuk investasi pompa, BBM, dan jaringan pipa PVC masih tertutup oleh keuntungan dari penjualan kentang. Pada musim penghujan, kentang tak perlu disiram, tetapi produktivitas dan kualitas panen tak sebaik saat musim kemarau.
Keberhasilan bisnis agro sebenarnya hanya perpaduan antara benih, air, nutrisi, sinar matahari dan perlindungan terhadap serangan hama serta penyakit. Dari komponen-komponen tersebut, sinar matahari satu-satunya yang di sediakan oleh alam secara gratis. Air berupa air hujan bisa diperoleh tanpa biaya, tetapi air irigasi dari waduk, embung dan pompa sedot memerlukan biaya sangat besar. Untuk budidaya padi, pemerintah menyediakan air irigasi yang bisa digunakan oleh petani tanpa dipungut biaya. Tetapi pemerintah tetap mengeluarkan biaya untuk membangun bendungan dan saluran primer, sekunder serta tersier.
Di kawasan yang ekstrim kering seperti Gunungkidul dan NTT, air masih bisa diadakan, meskipun dengan biaya tinggi. Curah hujan di Gunungkidul sama dengan di tiga kabupaten lain di DIY. Masalahnya tanah di Gunungkidul merupakan batuan kapur yang porous, hingga air hujan sebanyak apa pun akan segera masuk ke dalam tanah lalu secepatnya dialirkan ke laut. Hingga mengadakan air di Gunungkidul hanyalah menaikkan air sungai dalam tanah atau membuat embung. Di kawasan kering NTT juga sama, mengadakan air berarti menaikkan air tanah dengan pompa atau membuat embung.

Hingga sebenarnya bisnis agro akan lebih ideal di kawasan kering seperti NTT, bukan di kawasan basah misalnya di sekitar Bogor. Sebab semahal apa pun air masih tetap bisa diadakan. Kalau perlu dengan mengubah air laut menjadi tawar seperti di Kepulauan Seribu, Jakarta. Tetapi menyingkirkan awan dan kabut agar matahari bersinar terang belum bisa dilakukan. Mengganti sinar matahari dengan lampu tidak akan feasible untuk produk massal dalam skala luas. Misalnya gandum, kedelai dan jagung. Penggunaan sinar lampu baru feasible untuk produk tertentu seperti buah naga dan bunga krisan.
Air Di NTT
Selama ini embung identik dengan pertanian skala mikro di kawasan ekstrim kering. Misalnya di Kabupaten Gunungkidul, DIY. Padahal pertanian skala besar pun juga bisa menggunakan embung. Nun di Thailand sana, ada perkebunan mangga skala besar yang mengandalkan embung di puncak bukit untuk mengairi tanaman saat kemarau dengan memanfaatkan grafitasi. Embung akan diisi oleh air hujan. Di Indonesia pun PT Muria Sumba Manis (PT MSM) di Sumba Timur, NTT; juga memanfaatkan embung-embung raksasa untuk mengairi kebun tebu mereka.
Sebenarnya embung bisa dibangun di mana pun, tidak hanya di kawasan ekstrim kering. Di Karawang, Jawa Barat; air dari Waduk Jatiluhur tak mencukupi untuk mengairi seluruh sawah di Kabupaten Karawang. Hingga pada musim kemarau sawah-sawah itu menganggur. Sebenarnya embung bisa dibangun di antara petak-petak lahan sawah tersebut untuk menampung air hujan. Bisa pula air yang melimpah selama musim penghujan tersebut bukan ditampung dalam embung, melainkan dalam “tandon” di bawah tanah, dengan dilapis terpal sebagaimana embung di PT MSM di Sumba Timur.
Lahan sawah di Karawang sebenarnya bukan hanya “lumbung padi Jawa” bahkan Indonesia. Karawang sebenarnya juga bisa menjadi “lumbung kedelai nasional” saat musim kemarau. Biaya pengadaan air selama satu musim tanam akan tertutup oleh HPP kedelai. Yang jadi masalah, secara nasional sejak zaman Orde Baru tak pernah ada niat untuk swasembada kedelai. Berbagai program swasembada kedelai selalu gagal dijegal oleh para importir. Apabila niat itu ada, cukup mengandalkan lahan sawah di Karawang selama musim kemarai, Indonesia tak perlu impor kedelai.
Lahan sawah di Karawang saat kemarau, sebenarnya tak hanya bisa diberi pengairan dari embung atau tandon air. Menaikkan air sungai dengan pompa sedot ukuran besar merupakan salah satu alternatif. Sayangnya, para petani di Pantura Jawa yang sudah mengenal pompa sedot, tidak mau secara kolektif menanam kedelai. Mereka lebih tertarik untuk membudidayakan padi sebanyak tiga kali dalam setahun. Padahal rotasi dengan kedelai selama satu kali musim tanam, akan mengistirahatkan lahan, memutus siklus hama/penyakit padi dan meningkatkan kesuburan lahan. Kedelai bisa mengambil N dari udara dan menyimpannya dalam bintil akar.
Dalam skala kecil, para petani memanfaatkan pompa pantek bertenaga BBM untuk menaikkan air permukaan. Di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, para petani bawang merah dan cabai keriting bahkan hanya menggunakan tenaga manusia untuk menyiram tanaman dengan memanfaatkan air permukaan. Di Kabupaten Buleleng, Bali, para petani anggur malahan tak memerlukan apa pun. Air permukaan itu sedemikian dangkalnya hingga anggur justru lebih produktif selama musim kemarau. Di kawasan pegunungan pun, petani bisa menanam sayuran selama musim kemarau karena tanah sangat lembap. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
