• MAKAN POI DAN LAU-LAU DI HONOLULU

    by  • 24/03/2025 • Uncategory • 0 Comments

    Sore itu Rabu 23 Oktober 2024 pukul 8.00 PM waktu Hawaii, fod court Ala Moana Center, Honolulu sangat ramai. Berbagai menu disajikan, tapi kebanyakan menu Asia: Thailand, China, Korea dan Jepang. Juga menu khas Hawaii.

    Salah satu gerai food court itu bernama Poi Bowl Ala Moana. Di gerai itu disajikan paket poi dengan lau-lau. Bisa dengan tambahan nasi atau mi putih yang terbuat dari beras. Saya memesan paket “Local Boy Plate” seharga 22 dolar AS (Rp350.000) per porsi. Harga rata-rata paket menu di Poi Bowl Ala Moana berkisar 20 – 30 dolar AS. Sebenarnya saya juga ingin mencicipi sup callaloo tetapi sudah habis. Saya lihat banyak pula pengunjung food court memesan paket poi dan lau-lau dengan berbagai kombinasinya. Ada yang disantap di tempat, tetapi kebanyakan dibungkus untuk dibawa pulang.

    Poi merupakan sebutan untuk bubur talas. Secara tradisional poi dibuat dengan mengupas dan mengukus umbi talas, lalu menumbuknya di talenan besar dari kayu, dengan penumbuk (semacam ulegan) dari batu hingga menjadi getuk yang halus. Saat akan dikonsumsi, getuk talas itu diencerkan dengan air panas. Sekarang poi dibuat secara lebih higienis dengan pengukus dan penggiling modern, dikemas dalam mangkuk-mangkuk plastik. Di Swalayan poi dalam kemasan kantung plastik disajikan dalam berbagai ukuran dan harga. Sebagian besar umbi talas di Hawaii dikonsumsi dalam bentuk poi.

    Lau-lau adalah buntil daun talas khas Hawaii. Sama dengan buntil Indonesia lau-lau berupa daun talas ditumpuk tiga sampai lima lembar, di dalamnya ditaruh daging babi, ayam atau ikan; diberi potongan pelepah talas, lalu digulung, dibungkus daun hanjuang dan dikukus sampai empuk. Buntil Indonesia diisi kelapa parut, teri, biji lamtoro dan bumbu. Dikukus tanpa dibungkus daun lain dan setelah masak diberi kuah santan berbumbu dengan cabai rawit utuh. Lau-lau di Hawaii tidak diberi bumbu apa pun. Baru setelah masak, lau-lau disantap dengan kondimen dan acar. Lau-lau disantap bersama poi, nasi atau mi putih.

    Beda dengan lau-lau, sup callaloo mirip dengan sayur brubus di Jawa Tengah/DIY. Bahannya sama-sama daun talas, dimasak dengan air, bumbu dan garam sampai hancur hingga berbentuk seperti bubur. Yang membedakan sup callaloo dengan brubus hanya bumbunya. Sup callaloo juga disantap bersama poi, nasi atau mi putih. Tampaknya penggemar callaloo tak sebanyak lau-lau dan poi. Karenanya stok callaloo di Poi Bowl Ala Moana tak sebayak poi dan lau-lau. Callaloo justru digemari di Kepulauan Karibia. Padahal lau-lau dan poinya sama sekali tak dikenal di negeri-negeri Hindia Barat ini.

    Semua Dikonsumsi

    Konsumen poi, lau-lau dan callaloo paling banyak masyarakat asli Hawaii. Para pendatang Asia, Amerika dan Eropa lebih senang menyantap menu Asia lainnya, terutama masakan Jepang dan Korea. Hingga praktis produk pangan dari bahan talas hanya dikonsumsi oleh masyarakat asli Hawaii. Semua bagian tanaman talas yakni umbi, pelepah, daun dan anakan tanaman dikonsumsi sebagai sumber pati dan sayuran. Di food court, poi, lau-lau dan callaloo hanya disajikan di satu gerai seperti Poi Bowl, tetapi restoran-restoran khas Hawaii dengan menu-menu tradisional, banyak bertebaran di seluruh Hawaii.

    Umbi, pelepah, daun dan anakan talas segar, dipasarkan di swalayan produk pangan dan di kakilima China Town. Masyarakat asli Hawaii juga masih mengonsumsi talas dalam bentuk poi, lau-lau dan callaloo. Meskipun bahan pangan lain berupa beras, gandum dan jagung juga dominan di pasaran. Talas satoimo (edoe) dan ubi jalar yang sangat populer di Jepang juga mudah dijumpai di swalayan serta China Town. Sedangkan singkong segar didatangkan dari Thailand bersamaan dengan kelapa muda (kelapa pandan). Kualitas umbi talas di swalayan Honolulu tak sebagus umbi talas di China Town.

    Negara bagian Alaska dan Hawaii memang paling beda dengan negara-negara bagian AS yang berada dalam Benua Amerika. Alaska merupakan negeri beriklim kutub dengan etnisitas Eskimo, yang secara geografis terpisah dari negeri induknya. Hawaii negeri tropis yang berada di tengah-tengah Samudera Pasifik, dengan etnisitas Hawaii. Tapi bagaimana pun juga ini Amerika Serikat yang serba teratur, serba besar/kuat dan serba modern. Hingga menjadi menarik ketika masyarakatnya masih mengonsumsi talas sebagai makanan pokok. Meskipun sekarang populasi etnisitas Hawaii hanya tinggal belasan persen.

    Lain di Hawaii lain pula di Bogor, Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai “kota talas”. Di Bogor talas dibudidayakan dan dipasarkan sebagai produk oleh-oleh wisata yang dijajakan di tepi jalan bersama pisang, avokad dll. dengan harga tinggi. Oleh masyarakat, talas dikonsumsi hanya sebagai cemilan baik dikukus maupun digoreng. Hampir tak ada masyarakat Indonesia yang masih mengonsumsi talas sebagai makanan pokok. Demikian elit dan langkanya talas hingga masyarakat pada umumnya menganggap keladi (kimpul, bote, entik) sebagai talas. Di pasar dan warung sayuran, keladi disebut talas.

    Bagi lidah saya, poi, lau-lau dan callaloo tak seenak talas bogor yang dikukus maupun digoreng. Sedangkan lau-lau juga tak seenak buntil daun talas di Jawa Tengah. Callaloo memang membawa ingatan saya pada brubus yang di kalangan masyarakat jawa pun sudah tidak dikenal. Buntil yang dikenal masyarakat modern di Jakarta bukan lagi terbuat dari daun talas melainkan daun pepaya dan singkong. Menyadari fenomena ini, saya ikut bersyukur bahwa nun di Hawaii sana talas masih dibudidayakan dan dipasarkan sebagai makanan pokok dalam bentuk poi, lau-lau dan callaloo. Dan Hawaii itu Amerika Serikat. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *