• LEMBAH HANALEI DI PULAU KAUAI

    by  • 08/04/2025 • Uncategory • 0 Comments

    Lembah Hanalei terletak di sisi utara pulau Kauai, Hawaii. Dari Honolulu, Hanalei bisa dijangkau dengan pesawat lokal dari Daniel K. Inouye Airport di Pulau Oahu ke Lihue Airport di Pulau Kauai sejauh 164 kilometer dalam waktu 45 menit.

    Ada beberapa kali penerbangan pp dari Honolulu ke Lihue setiap harinya. Meskipun penerbangan dari Honolulu ke pulau Kauai tidak seramai penerbangan dari Honolulu ke Pulau Maui dan terutama ke Pulau Hawaii (Big Island) dengan atraksi lelehan lava dari kawah menuju laut. Rabu 23 Oktober 2024 pagi nyaris terlambat saya lari-lari untuk boarding di Daniel K. Inouye Airport. Cuaca cerah, kursi penumpang penuh, hampir semua masyarakat setempat. Beda dengan Daniel K. Inouye Airport di Honolulu yang ramai, Lihue Airport sangat lengang. Pesan Uber untuk mengantar ke Lembah Hanalei juga cepat sekali datang. Jalan raya Lihue – Hanalei mulus dan sepi sekali, menyusuri pantai timur Pulau Kauai.

    Sopir Uber itu bercerita tanaman talas di Kauai hanya ada di Lembah Hanalei. Sebagian besar pulau Kauai memang masih berupa hutan. Pemukiman dan areal pertanian hanya di sisi selatan dan barat daya pulau, di sekitar Lihue di timur dan resor-resor serta pemukiman eksklusif di utara, dekat Lembah Hanalei. Sisi barat pulau Kauai bertebing curam dan masih berupa hutan tanpa ada pemukiman. Jarak Lihue ke Hanalei 51 km dan tak sampai sejam saya sudah sampai ke titik “Hanalei Valley Lookout”, sebuah tebing curam untuk melihat sawah di Lembah Hanalei yang ditanami talas. Di seberang jalan ada pom bensin dengan “Foodland Princeville”.

    Di “Hanalei Valley Lookout” ini jalan terpecah dua. Yang turun berkelok menuju Lembah Hanalei, yang ke arah kanan masuk ke Princeville, kompleks vila, resor, perumahan mewah dan lapangan golf. Princeville terletak di perbukitan dengan pemandangan ke arah pantai utara Pulau Kauai dan di lembah-lembahnya dibangun lapangan golf. Penerbangan Honolulu Lihue selalu ramai karena kalangan jetset di Honolulu punya properti di Princeville. Kadang kalangan jetset Honolulu juga menyewa vila-vila dan resor mewah di kawasan Princeville ini. Dari jalan raya Lihue Hanalei kompleks Princeville tak kelihatan karena tak ada gerbang dan petunjuk lain.

    Hanya sebentar saya di “Hanalei Valley Lookout”, lalu diantar turun ke Lembah Hanalei lewat jalan yang berkelok dua kali. Sampai di bawah tampaklah sawah yang dari atas hanya tampak petak-petak hijau itu ternyata bukan ditanami padi melainkan talas yang dalam Bahasa Inggris disebut taro. Oleh sopir Uber saya diturunkan di Hanalei Taro & Juice Co di tepi jalan Kuhio Hwai. Di situ saya sempat mencicipi eskrim dengan toping taro. Tiba-tiba ada pelatuk bawang Hawaii, woodpeckers, the red-crested cardinal, Paroaria coronata mencecap cecerak eskrim yang dimakan seorang anak. Selain pelatuk, saya juga memotret the hawaiian gallinule, Gallinula galeata sandvicensis; trinil wandering tattler, Tringa incana; dan angsa Hawaii, Nene Branta sandvicensis.

    Dulu Sentra Padi

    Lembah Hanalei baru dibuka menjadi sawah untuk ditanami padi pada tahun 1860. Para imigran Chinalah yang pertama membuka sawah di sana, baru kemudian datang orang-orang Jepang. Lembah itu memang sangat rata dengan Sungai Hanalei yang bermataair dari hutan lindung Halalea. Dalam waktu tak terlalu lama Lembah Hanalei dikenal sebagai penghasil padi di Lauai bahkan juga di Hawaii. Salah satu imigran Jepang itu pasangan suami istri, Tomijiro Haraguchi dan Ine. Kalau para petani China menanam padi biasa berharga murah, Tomijiro Haraguchi menanam padi beras Jepang yang bernilai tinggi. Ia juga menerapkan teknologi bubidaya modern dan membangun penggilingan padi di Jalan Ohiki, Hanalei.

    Tahun 1930 penggilingan padi Haraguchi terbakar habis. Tahun itu juga keluarga Haraguchi membangun kembali penggilingan padi yang terbakar. Kemudian pada bulan November 1982 penggilingan padi itu kembali hancur diterjang Badai Iwa. Karena yang hancur hanya bangunannya, Keluarga Haraguchi kembali mendirikan bangunan penggilingan tersebut. Tetapi tahun 1992, Badai Iniki kembali menerjang areal pertanian padi tersebut. Tahun 2000an, penggilingan padi Haraguchi merupakan bangunan ke lima. Para petani padi asal Tiongkok juga kewalahan mengatasi hama bondol/emprit peking, the scaly-breasted munia, Lonchura punctulata. Para petani Tionghoa itu kemudian beralih ke komoditas talas.

    Keluarga Haraguchi kemudian juga ikut beralih ke komoditas talas. Tetapi Lyndsey Haraguchi-Nakayama, generasi ke lima pewaris bisnis sawah dan penggilingan padi, beralih ke kegiatan non profit, antara lain dengan mendirikan sekolah dan membentuk biro wisata Hoopulapula Haraguchi Rice Mill untuk tujuan sosial. Baru saja berjalan beberapa tahun pandemi Covid 19 melanda dunia termasuk Hawaii. Tahun 2021, saat pandemi belum selesai, lahan talas di Lembah Hanalei dilanda banjir. Sejak itu aktivitas wisata Hoopulapula Haraguchi Rice Mill untuk sementara dihentikan. Saat saya sampai ke Lembah Hanalei, food truck Hanalei Taro & Juice Co masih berada di lokasi semula tetapi masih tutup.

    Sejalan dengan itu Pantai Hanalei juga semakin ramai sebagai lokasi berselancar. Popularitas Pantai Hanalei tentu tidak seheboh Pantai Waikiki di Honolulu. Tetapi dari sisi panjang pantai dan kualitas ombaknya Pantai Hanalei bisa diandalkan. Karenanya Lembah Hanalei juga tumbuh menjadi kawasan wisata yang sangat ramai. Sepertinya terbentuk kawasan wisata dengan strata berbeda. Kawasan berbukit di Princeville untuk kalangan atas, Pantai Hanalei untuk masyarakat biasa. Tetapi bagaimana pun juga Hanalei masih wilayah Amerika Serikat. Kualitas wisatawan yang datang ke Hanalei tetap lebih terseleksi dibanding yang datang ke Waikiki.

    Dari “Hanalei Valley Lookout” saya kembali mengamati petak-petak sawah yang dulu merupakan hamparan tanaman padi. Petak-petak itu ada yang berwarna hijau pertanda ada talasnya, ada juga yang berkilau memantulkan cahaya matahari, pertanda talas baru saja dipanen dan menunggu saat untuk kembali ditanami. Sebenarnya para petani talas Lembah Hanalei sudah hafal dengan perangai badai (taifun) dari sejak nenek moyang mereka masih menanam padi. Yang jelas talas aman dari serangan bondol peking, dan apabila diterjang badai atau banjir tetap akan tumbuh kembali, tidak seperti tanaman padi. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *