• FESTIVAL TALAS KE 29 DI HANA MAUI TIMUR

    by  • 23/04/2025 • Uncategory • 0 Comments

    Sabtu, 26 April 2025 di Hana sebuah kota kecil di pantai timur pulau Maui Hawaii, akan diselenggarakan Festival Talas ke 29 (29th East Maui Taro Festival). Festival Talas Pertama diselenggarakan pada Jumat – Sabtu 26 – 27 Maret 1993.

    Sejak itu tiap tahun rutin diselenggarakan Festival Talas Maui Timur, hingga pada 2019 sudah terselenggara sebanyak 27 kali festival. Tahun 2020 – 2023 selama empat tahun festival talas ditiadakan karena pandemi. Festival talas kembali diselenggarakan pada Sabtu 20 April 2024 untuk yang ke 28 kalinya dan Sabtu, 26 April 2025 akan kembali diselenggarakan 29th East Maui Taro Festival di Hana, Maui Timur, Hawaii. Meskipun sebutannya “festival talas” sebenarnya East Maui Taro Festival juga ada musik serta pertunjukan lain. Festival talasnya hanya sebatas pameran, lomba dan bazar.

    Pulau Maui terletak di antara pulau Oahu di sebelah barat dan Pulau Hawaii (Big Island) di sebelah timur. Luas Maui 1.883 km2 sedikit lebih besar dari Kauai 1.456,4 km2. Populasi Maui 164.000 jiwa juga lebih banyak dari Kauai yang hanya 73.298 jiwa. Di Hana sebenarnya juga ada lapangan terbang, tetapi hanya untuk penerbangan lokal. Jadi dari Honolulu kita harus mendarat di Kahului baru kemudian ganti pesawat ke Hana sekitar 30 menit. Tetapi saya lebih memilih jalan darat karena ada jalan tol dari Kahului ke Hana sejauh 84 kilometer yang bisa ditempuh sekitar satu jam. Dalam praktek untuk menunggu, boarding dll. naik pesawat bisa lebih dari satu jam.

    Areal pertanian, termasuk lahan untuk budidaya talas, paling banyak memang di Maui. Itulah sebabnya festival talas juga diselenggarakan di Maui dan bukan di Oahu, Hawaii atau Kauai. Pertimbangan lainnya, masyarakat adat dengan kepercayaan bahwa talas adalah saudara tua manusia, paling banyak terdapat di Pulau Maui, khususnya di Hana. Talas dalam Bahasa Inggris taro, dalam Bahasa Hawaii disebut kalo. Kalo dalam mitologi Hawaii, berasal dari Dewa Haloanakalaukapalili yang meninggal sesaat setelah dilahirkan dan dari tanah tempat ia dikuburkan tumbuhlah talas.

    Awalnya Wakea, Dewa Langit, kawin dengan Papa, Dewi Bumi. Dari perkawinan ini lahirlah Hoʻohokukalani. Nama lengkapnya Kahoʻohokuokalani-i-kau-i-kaheahea (“dia yang menetapkan bintang-bintang di surga dan menghiasi wilayah surgawi”). Wakea Dewa Langit jatuh cinta pada anaknya sendiri hingga lahirlah Haloanakalaukapalili yang jadi talas itu. Dewi Hoʻohokukalani hamil untuk keduakalinya dan lahirlah Haloa yang menjadi manusia pertama Hawaii. Karenanya penduduk asli Hawaii percaya bahwa talas adalah saudara tua mereka yang wajib ada pada saat makan malam.

    Dari Asia Tenggara

    Ilmu botani menyebutkan bahwa talas, taro, Colocasia esculenta berasal dari India, China dan Asia Tenggara. Talas bermigrasi ke Kepulauan Pasifik antara tahun 35.000 sampai 15.000 SM bersamaan dengan migrasi Homo sapiens paska erupsi gunung api purba Toba pada tahun 70.000 SM. Migrasi Homo sapiens dan talas ini terhenti di Kepulauan Pasifik Selatan (Solomon, Vanuatu, Tuvalu dan Samoa). Sekitar tahun 200 dan 300 Masehi, ada migrasi masyarakat Indian Andes di Amerika Selatan menggunakan rakit kayu balsa ke Samudera Pasifik. Mereka membawa jagung dan ubi jalar. Migrasi mereka terhenti di Australia, Papua Nugini, Taiwan dan Okinawa.

    Terjadilah “kawin campur” antara masyarakat Kepulauan Pasifik yang berasal dari Afrika dengan masyarakat Indian Andes. Itulah sebabnya etnisitas Pasifik beda dengan penduduk asli Papua Indonesia yang sejak bermigrasi dari Afrika terisolir dari dunia luar. Sedangkan yang di Kepulauan Nusantara tercampur dengan etnisitas Mongoloid, yang sudah lebih awal menghuni kepulauan Nusantara. Mongoloid yang masih belum tercampur imigran Afrika menghuni Nias, Mentawai, sekitar Danau Toba (Batak Toba), Kalimantan (Dayak), dan Sulawesi (Toraja dan Manado). Baru pada tahun 600 penduduk Pasifik Selatan bermigrasi ke Hawaii sambil membawa serta talas, ubi jalar dan jagung.

    Sejak itu talas menjadi makanan pokok penduduk Hawaii bersama dengan Ubi jalar. Jagung tidak berkembang di Kepulauan Pasifik tetapi migrasinya sampai ke Maluku, NTT, Sulawesi, Filipina dan Daratan China. Di sini jagung bermutasi menjadi jagung ketan (Waxy corn or glutinous corn), yang di Benua Amerika justru tidak ada. Di Hawaii ubi jalar bermutasi jadi ungu kehitaman, dan talas menciptakan mitologi Haloanakalaukapalili, saudara tua manusia Hawaii. Tetapi masa kejayaan talas di Hawaii berangsur surut. Hawaii, juga Indonesia tak masuk ke dalam 10 besar negara penghasil talas dunia.

    Penghasil talas utama dunia 2022: 1 Nigeria 8.2 (juta ton); 2 China 1,9; 3 Kamerun 1,9; 4 Ghana 1,7; 5 Ethiopia 1,7; 6 Papua Nugini 227,2 (ribu ton); 7 Madagaskar 228,7; 8 Rwanda 202,9; 9 Mesir 158.2; 10 Jepang 138.9. Karena produksi talas Hawaii terus merosot, sekarang negara bagian ini menjadi eksportir talas terbesar sedunia. Indonesia juga tak tercatat sebagai penghasil talas dunia karena produksinya terlalu kecil, tapi sekaligus juga bukan importir talas. Kita importir gandum terbesar ketiga setelah China dan Mesir. Impor gandum kita rata-rata 10 juta ton per tahun. Impor tapioka kita rata-rata 500.000 ton per tahun.

    Salah satu penyebab turunnya produksi talas di Hawaii, karena berebut air dan lahan dengan perkebunan tebu. Sejak 2016 pabrik gula dan perkebunan tebu di Pulau Maui ditutup permanen. Sebagian besar lahannya dikembalikan menjadi Taman Nasional. Para petani talas senang. Mereka berharap bisa memperluas lahan mereka karena tak perlu berebut air dengan perkebunan tebu. Dengan begitu impor talas rata-rata sebesar 900.000 ton bisa berangsur dikurangi. Produksi talas Hawaii 2021 sebesar 10.582 ton, hingga tak masuk 10 besar penghasil talas dunia. Masih lumayan. Indonesia tidak punya data produksi talas karena memang terlalu kecil dan fluktuatif. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *