• KESUMBA KELING

    by  • 29/04/2025 • Uncategory • 0 Comments

    Dulu dekade 1980 di jalan-jalan kota besar masih banyak perdu kesumba keling, galinggem, lispstick tree, arnnatto tree, achiote, Bixa orellana; dengan polong buahnya yang merah mirip rambutan. Dekade itu Kesumba keling populer sebagai tanaman hias.

    Kesumba keling menggantikan “nusa indah” (genus Mussaenda, 185 spesies) sebagai tanaman hias yang sangat populer pada dekade 1960 – 1970. Padahal kesumba keling didatangkan pemerintah Hindia Belanda ke Kepulauan Nusantara terutama Jawa, sebagai penghasil zat warna merah yang disebut kesumba. Kosa kata kesumba merujuk ke bunga kesumba, safflower, Carthamus tinctorius yang berasal dari Iran dan Turki. Bunga Carthamus tinctorius sudah digunakan sebagai penghasil zat warna merah dan kuning (warna kesumba) sejak zaman Mesir Kuno. Hingga kosa kata kesumba selalu mengacu ke warna merah dan kuning.

    Tidak jelas mengapa tanaman Bixa orellana di Indonesia disebut kesumba keling. Kosakata keling dalam Bahasa Indonesia/Jawa mengacu ke suku bangsa Keling (Tamil) di India Selatan. Tetapi sebelum zat warna sintetis diproduksi massal dan dipasarkan, kesumba keling dibudidayakan untuk dipanen buahnya sebagai penghasil zat warna merah. Dalam kesumba keling zat warna merah itu berupa lapisan tipis yang terdapat dalam permukaan biji. Biji kesumba keling terdapat dalam polong yang juga berupa kulit tipis berbulu berwarna merah cerah dan berongga seperti bunga balon, Gomphocarpus physocarpus.

    Dalam Bahasa Tupi-Guarani, yang digunakan oleh etnisitas di Amerika Selatan, kesumba keling disebut urucum atau annatto yang berarti merah. Masyarakat Indian Aztek, Maya dan Inka, sudah membudidayakan kesumba keling. Mereka mengekstrak zat warna merah yang melapisi biji kesumba keling itu untuk mewarnai makanan, pakaian dan juga wajah mereka saat perang. Bangsa Spanyol dan Portugis membawa keluar benih kesumba keling ke Eropa, hingga tak lama kemudian tumbuhan sumber zat warna merah ini menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Bangsa Belandalah yang memasukkan kesumba keling ke Pulau Jawa.

    Bangsa Eropa tak hanya membawa keluar kesumba keling. Dari Benua Amerika juga dibawa keluar tembakau, kakao, jagung, kentang, ubi jalar, singkong, keladi, ganyong, garut, nanas, pepaya, sirsak, sawo, kacang tanah, jambu mete, labu siam, cabai dan tomat. Cukup banyak komoditas agro modern dari Benua Amerika yang sebenarnya baru kita kenal setelah abad 16 karena dibawa keluar oleh Bangsa Eropa. Kecuali ubi jalar dan jagung ketan yang sudah menyebar ke Kepulauan Pasifik karena dibawa migrasi oleh masyarakat Inca yang menjelajah Samudera Pasifik menggunakan rakit kayu balsa pada abad 3 – 4.

    Jadi Tanaman Hias

    Secara tradisional masyarakat Kepulauan Nusantara menggunakan kunyit sebagai sumber zat warna merah dan kuning pada makanan. Kunyit berasal dari India dan sudah menyebar ke Kepulauan Nusantara sejak zaman Hindu. Tetapi di sini, kunyit lebih banyak digunakan sebagai salah satu bumbu masakan dan bukan zat pewarna. Sebagai pewarna makanan dan terutama minuman, kita menggunakan kayu secang yang berasal dari Indochina. Kita juga menggunakan kutu lak, Kerria lacca; yang dikultur di pohon kosambi. Tetapi sebagai pewarna pakaian, masyarakat Kepulauan Nusantara lebih banyak menggunakan warna coklat soga dan biru indigo.

    Bangsa Belandalah yang membawa dan membudidayakan kesumba keling di Pulau Jawa untuk memproduksi zat warna merah makanan, minuman dan pakaian. Sebab dibanding kesumba asli dari bunga Carthamus tinctorius yang sangat populer di Timur Tengah, produktivitas kesumba keling lebih tinggi dan juga lebih cocok dibudidayakan di kawasan tropis. Kesumba asli Carthamus tinctorius dan penghasil warna karmin kutu Cochineal, Dactylopius coccus di kaktus entong Opuntia ficus-indica; hanya cocok dibudidayakan di kawasan gurun/sub tropis. Karenanya Belanda memilih kesumba keling untuk dibudidayakan di Hindia Belanda.

    Itu pun ternyata gagal. Sebab masyarakat di negeri jajahan Hindia Belanda tak terlalu suka makanan dan minuman berwarna merah. Ini menyangkut kultur Jawa di Hindia Belanda, yang menggunakan kosa kata warna merah (abang) untuk benda-benda yang sebenarnya berwarna coklat. Orang Jawa tidak mengenal kosa kata untuk warna coklat. Hingga kosa kata “abang” digunakan sekaligus untuk warna merah dan coklat. Karena Jawa etnisitas terbesar di Indonesia, salah kaprah ini menjalar ke kosa kata Bahasa Indonesia. Sebutan gula merah dan tanah merah sebenarnya digunakan untuk gula dan tanah berwarna coklat.

    Di dunia internasional, produksi zat warna merah dari kesumba keling juga kalah oleh kesumba asli Carthamus tinctorius, kunyit India, karmin Meksiko dan kesumba keling dari Brasil. Karena Bangsa Portugal yang menguasai Brasil, telah mengembangkan industri zat warna merah secara massal dari bahan baku kesumba keling. Itulah yang menyebabkan industri zat warna merah kesumba keling Hindia Belanda gagal. Setelah Indonesia merdeka kesumba keling berubah fungsi sebagai tanaman hias. Popularitas kesumba keling sebagai penghias taman dan tepi jalan, mencapai puncaknya pada dekade 1980.

    Pada dekade 1980 taman-taman kota, tepi jalan; tampak kesumba keling sangat dominan. Buahnya yang merah merona menjadi daya tarik utama. Setelah itu kesumba keling seperti lenyap baik sebagai penghasil zat warna merah maupun penghias taman/jalan. Padahal juga tidak. Di kiri jalan tol Ciawi – Sukabumi, saya masih melihat kesumba keling dijadikan penghias jalur hijau. Kalau kita klik di Google, penjual biji kesumba keling untuk benih maupun zat pewarna masih banyak. Terlebih sekarang masyarakat yang cukup kritis mulai pilih-pilih jenis makanan dan minuman yang menggunakan zat warna alami. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi:

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *