MARKISA KUNING MASAM
by indrihr • 05/05/2025 • Uncategory • 0 Comments
Semua genus Passiflora, suku Passifloraceae; berasal dari Amerika Selatan, tetapi Bangsa Portugis dan Belanda telah membawa benihnya ke Kepulauan Nusantara. Hingga sejak zaman Hindia Belanda paling sedikit sudah ada lima spesies Passiflora.
Pertama erbis, markisa besar, giant granadilla, Passiflora quadrangularis; kedua konyal, sweet granadilla, Passiflora ligularis; ketiga markisa masam ungu, passion fruit, Passiflora edulis; keempat rambusa, stinking passionflower, Passiflora foetida; dan kelima granadilla merah, pasion flower, Passiflora coccinea. Karena sudah lama masuk Kepulauan Nusantara masyarakat sudah menganggap lima spesies Passiflora ini tumbuhan asli dan bukan pendatang. Sama halnya dengan singkong, jagung, ubi jalar, keladi, nanas, pepaya, sirsak dll; yang juga berasal dari Amerika Selatan dan sudah dianggap sebagai tumbuhan asli.
Salah satu tanda sudah lama diintroduksi, lima spesies Passiflora ini, sudah punya nama lokal. Passiflora quadrangularis disebut erbis atau markisa besar. Passiflora ligularis disebut konyal. Passiflora edulis dikenal sebagai markisa ungu, markisa masam. Passiflora foetida yang sudah menjadi gulma diberi nama rambusa, kadang disebut ciplukan. Yang namanya masih nebeng nama Bahasa Inggris hanya Passiflora coccinea yang disebut granadilla merah. Sebagai tanaman hias rambat, granadilla merah bisa dijumpai di dataran rendah sampai tinggi sebagai tanaman pagar maupun dirambatkan ke pergola.
Meskipun banyak yang membudidayakannya, erbis belum bisa dijumpai di pasar baik sebagai bahan sayuran (yang muda) maupun minuman (yang sudah tua). Lain dengan konyal yang dengan mudah bisa dijumpai di banyak kawasan wisata di Indonesia. Konyal disukai masyarakat karena bisa dikonsumsi langsung sebagai buah. Sekarang konyal malah rutin ada di kios buah di DKI Jakarta. Lain halnya dengan markisa masam ungu yang hanya bisa dikonsumsi sebagai minuman setelah dicampur gula. Di Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara, markisa masam ungu dibudidayakan untuk diolah menjadi sirup yang dipasarkan sampai Jakarta.

Rambusa tidak pernah dibudidayakan meskipun rasanya lebih manis dari konyal. Sebab ukuran buah rambusa terlalu kecil. Tetapi spesies Passiflora ini telah menyebar ke seluruh Indonesia sebagai gulma. Yang menyebarkan burung pemakan buah dan musang. Cara makan rambusa juga sama dengan konyal, ditelan berikut bijinya. Dalam perut, biji rambusa tidak hancur, hanya dibersihkan dari pulpnya. Hingga ketika biji-biji ini keluar bersama faces burung atau musang, sudah seperti disemai lengkap dengan nutrisi berupa pupuk organik. Karena burung terbang ke mana-mana maka penyebaran rambusa sangat cepat dan luas.
Dekade 1990
Pertengahan 1990 ada informasi bahwa di Australia ada markisa masam berkulit kuning yang bisa dibudidayakan di dataran rendah. Ada dua teman yang langsung ke Negeri Kanguru itu untuk berburu markisa kuning. Dari dua teman itulah saya dapat oleh-oleh biji markisa kuning yang saya tanam di Cimanggis dan di Tanjung Lesung. Taman Buah Mekarsari juga secara khusus membudidayakannya. Dalam waktu tak sampai 10 tahun markisa kuning masam itu menyebar ke seluruh Indonesia dan bisa dibudidayakan mulai dari pantai sampai ke elevasi 1000 meter dpl. Produktivitasnya juga cukup tinggi sekitar 15 ton per hektare per tahun.
Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa nama botani markisa masam kuning sama dengan markisa masam ungu, yakni Passiflora edulis. Saya cek ke para pakar taksonomi di Kebun Raya Bogor mereka malah balik bertanya ke saya: “Bukannya Bapak lebih tahu dari kami-kami ini?” Ternyata, markisa kuning masam yang kadang disebut “golden passion fruit” atau “golden granadilla”, merupakan silangan alam antara markisa masam ungu, Passiflora edulis, dengan konyal Passiflora ligularis. Ada juga yang menduga markisa masam kuning hasil mutasi dari markisa masam ungu.
Dugaan markisa kuning masam hasil persilangan antara konyal dengan markisa ungu lebih masuk akal. Sebab dijumpai pula markisa masam dataran rendah, dengan warna sedikit keungunan dan berbintik-bintik mirip konyal. Sedangkan kulit buah markisa masam ungu, selalu polos tanpa bintik-bintik. Buah markisa dengan kulit sedikit keunguan ini tidak semasam markisa kuning. Umumnya, markisa dengan kulit sedikit keunguan juga hanya dijumpai di dataran menengah dan tinggi. Di dataran rendah hanya dijumpai markisa kuning masam. Fenomena ini memperkuat dugaan persilangan antara konyal dengan markisa masam ungu.
Ukuran markisa kuning masam lebih besar dibanding markisa masam ungu, dengan kulit tipis. Markisa masam dengan kulit buah agak keungungan, berukuran lebih besar dibanding markisa kuning masam, dengan kulit lebih tebal, tetapi tingkat kemasamannya menurun. Karenanya anak-anak sering memakannya langsung seperti memakan konyal. Daging buah (pulp) markisa kuning masam maupun yang agak keunguan, berwarna kuning pucat atau oranye. Warna pulp konyal selalu putih dan pulp markisa ungu dataran tinggi oranye. Pucatnya warna pulp markisa kuning masam berasal dari gen konyal.
Dulu teman saya yang berdomisili di Makassar itu terbang ke Australia untuk mendapatkan biji markisa kuning masam, guna dikebunkan sebagai bahan industri minuman. Markisa disukai karena masam dan aromanya yang khas, beda dengan aroma buah lain. Hingga perajin sirup markisa cukup menambahkan gula sebagai pengimbang rasa masam, sekaligus sebagai pengawet. Maraknya berbagai minuman kemasan dengan pewarna dan pemanis buatan yang murah, telah ikut pula menjadi pesaing sirup markisa asli. Anehnya, pasar buah markisa kuning masam juga belum terbentuk, karena masyarakat tidak tahu cara mengonsumsinya sebagai minuman. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi:
