• ANTARA MUSSAENDA DAN PSEUDOMUSSAENDA

    by  • 19/05/2025 • Uncategory • 0 Comments

    Di sebuah taman, atau pembatas jalan/bangunan, sering tampak semak dengan bunga kuning berbentuk bintang. Di dekat kuntum bunga itu ada satu atau dua daun berwarna putih. Sepintas daun putih itu mirip dengan daun (bunga) Mussaenda.

    Di Indonesia bunga genus Mussaenda salah kaprah disebut “nusa indah”. Bunga nusa indah pernah sangat populer sebagai tanaman hias pada dekade 1960 dan 1970. Waktu itu si pemilik rumah akan dianggap “ketinggalan zaman”, apabila di halaman rumahnya tidak ada bunga nusa indah. Ada dua spesies dan satu hibrida nusa indah yang menghiasi halaman rumah dan taman-taman pada dekade 1960/1970. Pertama nusa indah putih Mussaenda philippica ‘Aurorae’ (hibrida); kedua nusa indah oranye Mussaenda philippica (spesies); dan ketiga nusa indah merah Mussaenda erythrophylla (spesies).

    Sedemikian populernya bunga nusa indah hingga dibuat lagu, dijadikan nama kompleks perumahan, biro perjalanan dll. Tetapi nama Penerbit Nusa Indah di Ende, NTT; tidak ada kaitan dengan bunga nusa indah. Nama Penerbit Nusa Indah diambil dari julukan Pulau Flores sebagai “Nusa Indah” (pulau yang indah). Nama ini sudah digunakan sebagai label buku-buku yang dicetak oleh Percetakan Arnoldus; sebelum bunga nusa indah diintroduksi ke Indonesia. Kemungkinan berubahnya nama Mussaenda menjadi nusa indah justru diilhami dari label Nusa Indah dari buku-buku yang dicetak oleh Percetakan Arnoldus.

    Remaja dekade 1960/1970 sempat termakan isu bahwa daun nusa indah bisa dirajang seperti tembakau, dikeringkan dan dilinting sebagai rokok. Efek mengisap daun nusa indah diisukan mirip dengan mengisap ganja. Daun Mussaenda memang berkhasiat obat. Antara lain antiulkus (menurunkan keasaman lambung), antimikroba, antibakteri dan antijamur; antiinflamasi (meredakan radang, nyeri dan demam); serta beberapa khasiat lain. Tetapi tak pernah terbukti secara farmakologis bahwa daun Mussaenda mendatangkan efek narkoba. Mereka yang pernah mencoba mengisapnya mengaku tak ada efek apa pun.

    Genus Mussaenda terdiri dari 185 spesies yang tersebar di Afrika, Asia dan Kepulauan Pasifik. Dari 185 spesies Mussaenda itu sebanyak 47 spesies berhabitat asli Indonesia. Meskipun spesies dalam genus Mussaenda cukup banyak, tetapi yang populer sebagai tanaman hias hanya tiga sampai empat spesies dengan Mussaenda philippica berikut hibridanya yang paling banyak ditanam sebagai perdu hias. Sama dengan Bugenvil dan Kastuba, yang disebut bunga nusa indah sebenarnya daun. Sedangkan bunganya yang kecil terselip di antara kerimbunan daun berwarna putih, oranye atau merah, hingga aman dari serangan pemangsa.

    Pseudomussaenda

    Sampai sekarang bunga nusa indah tetap masih ada yang menanamnya sebagi perdu hias. Di taman kota atau gedung perkantoran juga masih sering tampak nusa indah sebagai elemen taman. Tetapi dua dekade belakangan ini trend elemen taman dan peneduh jalan sudah bergeser ke Tabebuia (kuning, putih dan pink). Tanaman elemen taman dikelompokkan dalam bentuk pohon, perdu, semak, tanaman merambat dan penutup tanah (rumput dan tanaman lain yang tahan diinjak). Belakangan ini dalam kelompok semak muncul trend baru tanaman Pseudomussaenda flava sebagai border.

    Pseudomussaenda flava juga sering salah kaprah disebut “nusa indah kuning” (yellow Mussaenda). Padahal yang kuning justru bunganya bukan daun semu yang menyaru sebagai bunga. Daun semu Pseudomussaenda flava berwarna putih. Tetapi justru kombinasi daun hijau, bunga kuning dan daun semu putih inilah yang menjadi daya tarik utama Pseudomussaenda flava. Barangkali karena masih jarang, dan yang memanfaatkannya sebagai elemen taman para perancang taman untuk gedung perkantoran elite, maka Pseudomussaenda flava ikut tampak berkesan serta berpenampilan elite.

    Pseudomussaenda flava belum menjadi trend bagi para perancang taman, dinas pertamanan maupun rumah tangga. Beda dengan elder kuning (yellow elder, Tecoma stans) yang sudah menjadi trend. Salah satu pertanda nusa indah kuning belum ngetrend, tanaman hias ini belum ditawarkan di marketplace Indonesia. Yang ada di marketplace Malaysia dengan harga 18 ringgit per tanaman. Dengan kurs satu ringgit Malaysia Rp3.500, harga satu tanaman nusa indah kuning itu hanya Rp63.000, masih relatif murah. Murahnya bibit nusa indah kuning, disebabkan cara pengembangbiakannya mudah, bisa dengan stek dan biji.

    Genus Mussaenda dengan 185 spesies dideskripsi oleh ahli botani Belanda Johannes Burman (1707 – 1780) pada tahun 1753. Pseudomussaenda hanya beranggotakan 4 spesies; baru dideskripsi oleh ahli botani Inggris Herbert Fuller Wernham (1879 –1941) pada tahun 1916. Empat spesies Pseudomussaenda itu berhabitat asli Afrika: 1 Pseudomussaenda angustifolia; 2 Pseudomussaenda flava; 3 Pseudomussaenda monteiroi; 4 Pseudomussaenda stenocarpa. Bunga ini disebut Pseudomussaenda karena mirip dengan Mussaenda, padahal bukan (semu, palsu). Dari empat spesies Pseudomussaenda ini yang paling banyak dibudidayakan Pseudomussaenda flava.

    Sebenarnya trend tanaman hias sama saja dengan trend pakaian, makanan, rumah dan mobil. Tiap dekade akan selalu muncul tanaman baru. Ada yang kemudian viral, ada yang biasa-biasa saja tetapi omset perdagangannya besar. Fenomena aglaonema, anthurium daun dan monstera “janda bolong” misalnya; hanyalah bisnis monyet (monkey business). Secara nasional omset dari bisnis monyet sangat kecil. Tanaman sebagai elemen taman tidak pernah viral, tetapi secara nasional beromset sangat besar. Misalnya pohon pulai dan kamboja ukuran jumbo untuk taman perkantoran dan kompleks perumahan. # # #

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *