KAPUK PINK SEBAGAI POHON HIAS
by indrihr • 16/06/2025 • Uncategory • 0 Comments
Pohon hias sub tropis umumnya berbunga pada musim semi. Misalnya bunga sakura di Jepang. Kapuk pink justru berbunga pada bulan Oktober pas musim gugur. Harap maklum kapuk pink tumbuhan tropis sama dengan kapuk randu kita, juga sama-sama berasal dari Amerika Selatan.
Bulan Oktober di pembatas jalan S Olive St, Los Angeles, Kalifornia, AS; tampak sebatang pohon kapuk pink, silk floss tree, Ceiba speciosa sedang berbunga lebat. Batang pohon kapuk pink itu berdiri tepat di seberang rel kereta miring, Angels Flight Railway. Di sebelah kiri rel kereta miring dari arah bawah, juga ada sebatang pohon kapuk pink lagi, juga sedang berbunga. Meskipun bunganya tak selebat yang di pembatas jalan itu. Di sepanjang jalan N Hill St di Chinatown, tampak lebih banyak lagi pohon kapuk pink juga sedang berbunga. Di bawah pohon itu berserakan kelopak bunga yang sudah berguguran.
Di perempatan N Hill St dengan W Cesar Estrada Chaves Ave, satu pohon kapuk pink malah sudah berbuah dan beberapa buahnya pecah lalu kapuknya berhamburan ke mana-mana. Di dekat pom bensin N La Brea Ave ada dua batang pohon kapuk pink yang juga sedang berbunga. Tanamannya masih pendek, tempatnya sepi dan pukul 07.30 waktu setempat cuaca cerah. Saya leluasa mengambil gambar bunga kapuk pink, close up duri-duri tajam di salah satu dahan dan polong buah yang kulitnya sudah pecah dan terlempar ke bawah. Nanti siang saat terkena panas matahari kapuk dan bijinya akan beterbangan diterpa angin.

Meski tergolong tumbuhan tropis, tampaknya kapuk pink bisa beradaptasi dengan cuaca sub tropis. Sosok tanamannya menjadi lebih pendek tetapi berbunga lebat dengan warna pink yang lebih “ngejreng” dibanding kapuk pink yang tumbuh di kawasan tropis. Dalam kelembapan iklim tropis kapuk pink akan tumbuh menjadi pohon besar, tetapi bunganya tak akan selebat di kawasan sub tropis. Warna pink bunganya juga pudar tidak cerah seperti di kawasan sub tropis. Sama dengan kapuk randu yang habitat aslinya kawasan tropis dengan elevasi 100 sampai 800 meter dpl. Di dataran rendah seperti Jakarta produksi buahnya tak akan sebaik di Bogor.
Di marketplace Indonesia, bibit kapuk pink ditawarkan seharga Rp 100.000 ukuran kecil tanpa spesifikasi tinggi tanamam, dan Rp 12.500.000 tinggi 4 – 5 meter; diameter batang 25 – 30 sentimeter. Meskipun sudah dijual di marketplace, saya belum pernah melihat kapuk pink berbunga di jalan, taman kota, halaman gedung perkantoran dan kompleks perumahan. Kemungkinan belum banyak yang tahu adanya kapuk pink. Bahkan kapuk randu yang sejak zaman Belanda sampai sekarang masih merupakan komoditas andalan ekspor, sudah tak terlalu dikenal oleh generasi muda kita.
Beda dengan Randu Alas
Prof. Dr. Purnomo, M.S. Guru Besar Fak. Biologi UGM dalam wawancara dengan Kumparan pernah mengklaim bahwa randu alas kuning hanya ada di Yogya dan India.
https://kumparan.com/pandangan-jogja/kesempurnaan-randu-alas-affandi-ibu-dari-randu-alas-di-jogja-1wKV8DKaQz9/3?fbclid=IwY2xjawHDsgpleHRuA2FlbQIxMAABHSr3vyMtJdybEUVIIBliBB5bBPB0CWfvvsL3329mw-mc99fF33gTsFxqYw_aem_2ItQhf9vjJr-H61h8hT33g Memang benar bahwa randu alas berbunga merah paling banyak ditemui di Indonesia. Randu alas, genus Bombax, suku kapas-kapasan, Malvaceae; terdiri dari delapan spesies. Randu alas merah Bombax ceiba, berhabitat asli Asia termasuk Indonesia. Jadi wajar kalau di sini lebih mudah ditemui randu alas berbunga merah.
Randu alas kuning, Bombax costatum, berhabitat asli Afrika tropis, bukan India. Bahwa tumbuhan asli Afrika itu bisa dijumpai di India dan Yogyakarta cukup wajar sebab sejak zaman purba masyarakat Asia Tenggara sudah bermigrasi sampai Madagaskar, dan masyarakat India banyak berniaga ke Afrika. Apabila seorang pakar botani dari UGM pun bingung dengan randu alas, terlebih lagi masyarakat awam. Mereka akan lebih sulit membedakan randu alas dengan kapuk randu. Sebab nama botaninya memang membingungkan. Randu alas merah Bombax ceiba, sedangkan kapuk randu Ceiba pentandra.
Genus Ceiba juga suku kapas-kapasan, Malvaceae, terdiri dari 19 spesies dan semua berasal dari Amerika Tropis. Dari 19 spesies itu yang paling dikenal masyarakat kapuk randu, Ceiba pentandra sebagai penghasil serat kapuk. Kedua kapuk pink, Ceiba speciosa sebagai pohon hias; dan ketiga Ceiba chodatii yang dalam Bahasa Inggris juga disebut floss silk tree, sama dengan Ceiba speciosa. Ceiba chodatii dikenal karena batangnya yang menggembung seperti halnya pohon baobab. Ceiba chodatii berhabitat asli kawasan kering di pegunungan Argentina, Bolivia dan Paraguay.
Pohon hias di sebuah kota, sangat dipengaruhi oleh selera Walikota, atau orang-orang yang berpengaruh terhadap walikota. Dulu, dekade 1960, Gubernur Jakarta Ali Sadikin banyak menanam angsana, Pterocarpus indicus, agar Jakarta yang gersang cepat jadi hijau. Angsana juga mudah diperbanyak dengan stek cabang. Sekarang yang dominan di Jakarta Tabebuia. Awalnya kuning, Tabebuia aurea. Belakangan datang tabebuia putih Tabebuia heterophylla dan tabebuia pink Tabebuia rosea. Genus Tabebuia suku Bignoniaceae beranggotakan 74 spesies dan juga berasal dari Amerika Tropis.
Spesies pohon hias sebenarnya hanyalah antri menunggu giliran untuk menjadi trend. Kadang tanaman yang beberapa dekade pernah populer kemudian dilupakan, bisa kembali menjadi tanaman favorit karena berbagai sebab. Misalnya tanaman rambat Petrea volubilis yang dekade 1960an pernah populer, sekarang kembali banyak dijumpai di berbagai taman, seakan-akan itu tanaman hias baru. Petrea volubilis juga berasal dari Amerika Tropis. Pada suatu saat apabila ada seorang tokoh menyenangi kapuk pink, pohon hias ini akan menjadi trend. Atau ada pedagang tanaman yang “menggorengnya” seperti Anthurium dan “janda bolong”. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
