• STOP IMPOR BERAS GULA GARAM DAN JAGUNG

    by  • 02/07/2025 • Uncategory • 0 Comments

    Rapat koordinasi terbatas di tingkat Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada 9 Desember 2024 di Jakarta memutuskan tahun 2025 pemerintah akan menghentikan impor beras, gula, garam dan jagung pakan ternak.

    Tahun 2013, pemerintah juga pernah menghentikan impor 13 produk hortikultura, termasuk durian dan benih anggrek dendrobium dari Thailand. Tahun 2020 pasar kembali dibanjiri durian Mon Thong “impor”. Ternyata, dalam kurun waktu tujuh tahun agroindustri durian Mon Thong Indonesia tumbuh dan sudah mampu memenuhi kebutuhan pasar. Tetapi para pedagang belum “pede” menyebutkan bahwa durian Mon Thong itu produk Buleleng, Palu dan beberapa kebun di Jawa. Karenanya mereka tetap memberi label impor untuk durian Mon Thong mereka. Sampai Desember 2024 durian Mon Thong lokal itu tetap disebut impor.

    Kalau agroindustri durian nasional dengan cepat bisa terbentuk dan tumbuh, agroindustri pembenihan anggrek dendrobium justru masih bergantung ke Thailand. Importir yang sebelum 2013 mendatangkan benih Dendrobium dari Thailand, menyiasatinya dengan memanipulasi izin memasukkan benih anggrek lokal yang diperbanyak dengan kultur jaringan di Thailand. Dengan izin ini benih anggrek Dendrobium Thailand sampai tahun 2024 sekarang ini tetap melenggang masuk Indonesia dengan sebutan benih anggrek lokal yang kita perbanyak di Thailand. Ini bukan melulu kesalahan importir melainkan juga kesalahan pemerintah.

    Impor mestinya tetap diizinkan apabila memang lebih murah dibanding produk lokal. Misalnya bawang putih. Hanya ada satu dua negara di dunia yang bisa membendung bawang putih China. Produksi bawang putih China nomor satu dunia sebesar 20,5 juta ton. Peringkat dua dipegang India hanya 3,2 juta ton. Nomor tiga Korea Selatan dengan 800 ribu ton. Keempat Bangladesh 500 ribu ton dan kelima Mesir 300 ribu ton. Produksi bawang putih Indonesia hanya 30 ribu ton. Total produksi bawang putih dunia 28,2 juta ton. Artinya, China menghasilkan 72,69% dari total produksi bawang putih dunia. Sampai dengan September 2024 volume impor bawang putih Indonesia dari China mencapai 345,5 ribu ton dengan nilai 453,32 juta dolar AS.

    Gandum lebih ekstrim lagi karena kebutuhan tepung terigu nasional kita 100% bergantung gandum impor. Tahun 2023, impor gandum Indonesia mencapai 10,58 juta ton dengan total nilai 3,66 miliar dolar AS. Pada saat kampanye pilpres, Presiden Prabowo Subianto pernah mengatakan untuk mensubstitusi gandum dengan tepung singkong (cassava flour). Ini pernah dilakukan Indofood saat harga tepung singkong lebih murah dari tepung terigu. Tetapi sekarang kita kekurangan singkong hingga rutin mengimpor pati singkong (tapioka) sebesar 500 ribu ton dari Thailand.

    Plus Minus Stop Impor

    Sejak era reformasi, sebenarnya produksi beras Indonesia terus tumbuh sejalan dengan pertumbuhan tingkat konsumsi. Tetapi selisih angka produksi dan konsumsi nasional sangat tipis, hanya berkisar antara 1 sampai 2 juta ton. Ini cukup rawan bagi ketahanan pangan nasional sebab pangan alternatif kedua Indonesia justru gandum yang 100% harus diimpor. Pangan sumber pati di luar beras dan gandum tidak berkembang di Indonesia malah cenderung tersisihkan. Misalnya sagu yang menjadi bahan pangan di kepulauan timur Indonesia, sekarang tersisihkan oleh beras dan gandum.

    Selama ini Indonesia mengimpor beras melalui Bulog, sebagai cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar rata-rata 1,5 juta ton per tahun. CBP akan digunakan untuk menanggulangi bencana alam, gagal panen dan operasi pasar saat harga beras melambung. Sebenarnya CBP bisa dipenuhi Bulog dengan membeli gabah petani. Tetapi sejak zaman Orde Baru salalu saja Bulog tak pernah bisa membeli gabah petani untuk dijadikan CBP karena harga eceran terendah (HET) gabah yang ditetapkan pemerintah selalu lebih rendah dari harga pasar. Itulah yang menjadi dalih Bulog untuk selalu rutin mengimpor beras.

    Khusus menjelang Pemilu, pemerintah menaikkan impor beras dari rata-rata 1,5 juta ton menjadi 2 sampai dengan 3 juta ton. Ini yang menyebabkan pada tahun-tahun setelah Pemilu Bulog tidak mengimpor beras atau hanya mengimpor sebesar 500 ribu ton. Jadi sebenarnya penghentian impor beras pada 2025 sesuatu yang wajar sebab beras impor 2023 dan 2024 sebesar sekitar 3 juta ton masih menumpuk di gudang Bulog. Selama era reformasi jarang ada gagal panen karena di sentra padi utama yang menanam bukan lagi petani pemilik sawah melainkan para pemodal pemilik penggilingan beras.

    Selama ini “permainan” impor gula tebu memang keterlaluan. Tebu berasal dari Indonesia dan Jawa pernah jadi penghasil gula utama dunia. Tapi kemudian impor gula kita rutin 4,5 juta ton dari konsumsi kita sebesar 6,5 juta ton; sebab produksi kita hanya 2 juta ton. Impor gula kita 2023 sebesar 5 juta ton senilai 2,8 miliar dolar AS. Apabila PT Muria Sumba Manis (MSM) di Sumba sudah berproduksi penuh sebesar 5 juta ton per tahun, otomatis impor tidak diperlukan lagi. Belum lagi dari kebun tebu dan pabrik-pabrik baru yang berskala lebih kecil dari PT MSM. Jadi sebenarnya penghentian impor gula 2025 memang sudah seharusnya.

    Garam lain lagi. Sebagai negara kepulauan Indonesia tidak punya deposit tambang garam seperti India, China, Australia dan AS. Hingga impor garam tambang memang lebih murah dari garam laut. Bodonya kita, tidak mau mengembangkan industri garam laut secara tertutup untuk ekspor, dan tetap mengimpor garam tambang. Jagung sebagai pakan ternak sebenarnya sudah bisa dicukupi dari produksi nasional sebesar 20 juta ton. Indonesia penghasil jagung peringkat 8 dunia. Yang perlu digenjot sebenarnya produksi singkong nasional, agar bisa mensubstitusi gandum dan mengurangi atau menghentikan impor tapioka dari Thailand. # # #.

    Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
    Foto F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *