KOMODITAS APAKAH YANG AKAN BOOMING 2025?
by indrihr • 08/07/2025 • Uncategory • 0 Comments
Itulah pertanyaan yang sering diajukan oleh mereka yang ingin terjun ke sektor agro. Komoditas yang dianggap pernah booming misalnya porang. Padahal porang bukan komoditas ajaib yang bisa membuat seseorang menjadi kaya dengan cara mudah dan cepat.
Porang, iles-iles, Amorphophallus muelleri dan Amorphophallus bulbifer bukan komoditas baru. Tanaman berumbi ini sudah dibudidayakan sejak zaman Belanda, sebagai substitusi konjac, Amorphophallus konjac yang merupakan tumbuhan sub tropis. Porang dan konjac dibudidayakan untuk diambil glukomanannya. Glukomanan merupakan serat pangan yang terlarut dalam air, untuk bahan konyaku dan shirataki, menu khas Jepang yang enak, mengenyangkan tetapi nol kalori. Sampai sekarang porang masih tetap dibudidayakan dan diserap pasar tanpa memerlukan booming seperti tahun yang lalu.
Sebelum booming dan sekarang ini, porang dibudidayakan di bawah tegakan jati, atau tumpang sari dengan tanaman lain. Biaya tanam dan perawatan nyaris nol. Awal musim penghujan porang tumbuh dan petani hanya akan menengok tanaman dan menandai lokasi, agar pada musim kemarau saat tanaman sudah mati (dorman) bisa dipanen dengan mudah. Ketika porang dibudidayakan secara monokultur dengan intensif, HPP akan membengkak. Ketika porang akan dijual dengan harga di atas HPP, kalah bersaing dengan porang tumpangsari di bawah tegakan hutan jati, sengon dan kopi.
Kopi juga pernah booming meskipun tidak seheboh porang. Euforia masyarakat untuk membudidayakan kopi sangat tinggi. Kebetulan harga komoditas ini juga cukup bagus hingga para petani menjadi lebih sejahtera. Euforia budidaya kopi sebenarnya merupakan efek dari maraknya gerai kopi di Indonesia. Tahun 2010 konsumsi kopi kita per kapita per tahun masih kurang dari 0,5 kilogram per kapita per tahun. Tahun 2020 konsumsi kopi kita sudah di atas dua kilogram per kapita per tahun meskipun masih jauh dari Laos, peringkat 10 peminum kopi dunia dengan konsumsi 15,4 kilogram per kapita per tahun.

Avokad juga salah satu komoditas yang dianggap booming. Pada zaman Belanda, hanya orang Belanda dan etnisitas China yang mengonsumsi avokad. Setelah Indonesia merdeka, avokad jadi buah yang tersia-siakan dan tak laku dijual. Baru mulai dekade 1970 buah ini kembali bisa dipasarkan sebatas di kawasan wisata. Sejak dekade 2010, avokad naik daun. Seakan ada “demam” mangonsumsi dan membudidayakan avokad. Booming sangat riil. Bukan seperti lengkeng dataran rendah dan kurma tropis yang sebenarnya dibuat seakan-akan booming oleh para penangkar benih agar bisa meraih peluang pemasaran.
Singkong Juga Oke
Singkong merupakan komoditas yang persentase keuntungannya bisa sampai 200 bahkan 400% dari modal. Karena nilai benih sangat rendah, biaya pengolahan lahan penanaman pupuk dan perawatan juga rendah. Kelemahan singkong, nilai nominalnya sangat rendah. Hingga persentase keuntungan yang besar itu, baru akan benar-benar besar secara nominal, apabila luas lahan singkong mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan hektare. Karena persentase keuntungan yang tinggi, perusahaan besar seperti Gunung Sewu Group di Lampung juga membudidayakannya dalam skala luasan sampai ribuan hektare.
Para pemilik kapital yang terjun ke sektor agro, umumnya minim pengetahuan tentang komoditas dan kesesuaian agroklimat. Hingga ada yang membudidayakan kentang di kawasan Puncak, Jawa Barat. Tentu saja hancur karena tingkat kelembapannya yang sangat tinggi. Apel Malang pernah ditanam di Kecamatan Bandungan dan Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Elevasi lahan memang di atas 1000 meter dpl. Tetapi kelembapan udara masih sangat tinggi dibanding di Batu dan Poncokusumo, Malang. Apel sama dengan kentang memerlukan udara dingin tetapi berkelembapan rendah.
Di Kabupaten Pandeglang, Banten, di lahan dengan elevasi hanya 100 meter dpl, ada investor menanam murbei untuk pakan ulat sutera. Lokasi budidaya ulat sutera juga di elevasi 100 meter dpl. Tentu saja gagal, sebab ulat sutera hanya akan optimum apabila dipelihara di elevasi di atas 1000 meter dpl. Sebaliknya di Nongkojajar, Pasuruan, Jatim, di elevasi lebih dari 1000 meter dpl, saya pernah melihat seorang pengusaha menanam durian Mon Thong. Memang bisa tumbuh, tetapi tanamannya kerdil dan hanya bisa berbunga tanpa pernah menjadi buah. Mon Thong hanya bisa dibudidayakan di elevasi di bawah 600 meter dpl, dengan kelembapan udara rendah.
Selain faktor agroklimat, kultur pun juga perlu diperhatikan dengan cermat. Dulu pernah ada investor yang memelihara sapi potong dalam skala sangat besar dengan sistem digaduhkan (inti – plasma) di Jawa Barat. Masyarakat Jawa Barat tidak punya kultur memelihara sapi dan kambing. Kultur mereka memelihara kerbau dan domba. Hingga bisnis peternakan sapi potong yang di Jawa Barat idealnya dalam bentuk feedlot modern. Apabila ingin melibatkan masyarakat, yang dipelihara sapi perah. Masyarakat di masing-masing daerah punya kultur yang berbeda menyangkut komoditas agro.
Sebenarnya, paling ideal apabila para calon investor sektor agro, jangan berinvestasi sendirian, melainkan membentuk lembaga bersama teman-temannya. Misalnya, para pensiunan dari sebuah lembaga, mendirikan PT, Perkumpulan atau Koperasi, menghimpun modal, lalu membayar tenaga profesional untuk mengelola bisnis mereka. Kemudian pekerjakan tenaga yang berasal dari sentra sebuah komoditas. Kalau akan menanam bawang merah, ambil tenaga dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Mau tanam kentang cari tenaga dari Dieng. Jangan tergoda oleh bujukan produsen benih seperti dalam kasus booming porang. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
