HARGA BERAS DI INDONESIA
by indrihr • 29/07/2025 • Uncategory • 0 Comments
Bank Dunia (World Bank) menyebutkan bahwa harga beras di Indonesia 20% lebih tinggi dari harga beras di pasar global. Benarkan pernyataan Bank Dunia tersebut dan apakah hal itu merupakan permasalahan yang sangat serius? (Erika, Manado).
Sdri. Erika, pernyataan Bank Dunia itu benar, tetapi merupakan sesuatu yang tidak apple to apple. Sebab harga beras di pasar dunia merupakan harga grosir (partai besar, wholesaler, ekspor dan impor) yang akan selalu bergerak naik dan turun sesuai hukum pasar. Sedangkan harga beras di Indonesia merupakan harga eceran yang ditetapkan pemerintah. Meskipun realisasinya harga beras dalam negeri itu pun juga akan naik dan turun bergantung daerah dan saat panen atau masa paceklik.
Pernyataan tentang harga beras Indonesia ini disampaikan oleh Carolyn Turk, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste dalam acara International Rice Conference (IIRC) 2024 di Nusa Dua, Bali, pada Jumat 20 September 2024, dan langsung viral di media sosial. Carolyn Turk juga menyebutkan bahwa harga beras di Indonesia tertinggi di Asean. Padahal harga beras Indonesia (peringkat 92) lebih murah dibanding Vietnam (91), Filipina (90), Thailand (78), Malaysia (77). https://www.numbeo.com/cost-of-living/country_price_rankings?itemId=115
Dalam situs Numbeo ini tampak jelas bahwa lima negara dengan harga beras tertinggi adalah 1 AS (4,57 $ AS); 2 Swiss (4,19 $ AS); 3 Jepang 3,82 $ AS); 4 Kanada (3,74 $ AS); dan 5 Swedia (3,57 $ AS). Membandingkan harga beras di satu negara dengan negara lain pun sebenarnya juga tak pernah bisa apple to apple. Misalnya, harga beras dalam negeri Indonesia dengan harga beras dalam negeri di Inggris atau Jepang. Inggris jelas bukan negeri penghasil beras melainkan gandum.

Meskipun Jepang juga negeri penghasil beras, tetapi harga beras di negeri ini termasuk yang tertinggi di dunia. Sebab pemerintah Jepang sengaja memproteksi petani padi, agar tetap mau berproduksi. Hingga harga beras dalam negeri dan bea masuk beras impor dibuat setinggi mungkin. Insentif tinggi juga diberikan ke para petani padi. Tetapi ini semua tidak mampu membuat generasi muda mau menjadi petani padi. Dampaknya banyak sawah menganggur. Petani tua sudah tak kuat bekerja sementara anak-anak mereka tak mau melanjutkannya.
Dalam hal regenerasi petani (bukan hanya petani padi), Thailand bisa dijadikan contoh yang baik. Di Thailand, semua lahan pertanian milik Raja (dikuasai negara). Hingga para petani tidak bisa menjual lahan pertanian mereka, terlebih untuk dialihfungsikan bagi kepentingan non pertanian. Saat petani sudah tak kuat bekerja, lahan akan diambil alih (dibeli) oleh negara. Negaralah yang akan menawarkan lahan pertanian itu agar bisa dilanjutkan oleh generasi muda, melalui kelompok tani, koperasi, asosiasi; atau lewat perguruan tinggi pertanian.
Anak-anak muda yang baru lulus program diploma, politeknik atau S1 pertanian akan ditawari mengelola (membeli) lahan pertanian tersebut, dengan uang yang diperoleh dari kredit bank. Hingga di Thailand hampir tak terjadi lahan pertanian padi yang menganggur seperti di Jepang, dan juga hampir tak pernah terjadi alih fungsi lahan pertanian untuk jalan, bangunan, industri dll. Di Indonesia regenerasi pertanian padi berbentuk lain lagi. Meskipun pencetakan sawah baru relatif lamban, tak sebanding dengan alih fungsi sawah untuk non pertanian, tetapi produksi kita padi terus naik.
Sebab yang menanam padi di sentra padi penting seperti pantura Jawa, Sulawesi Selatan dan Merauke, bukan lagi pemilik sawah, melainkan pemilik modal. Ini tak hanya terjadi pada padi tetapi juga jagung, singkong, ubi jalar, kedelai, kacang tanah, kentang, cabai, bawang merah dll. Pemilik lahan cukup menyewakan lahan mereka ke para juragan padi, jagung, singkong dll. Para juragan inilah yang menanam padi dll. dalam skala belasan sampai puluhan hektare, hingga menjadi sangat efisien/efektif. Para juragan ini juga menguasai pasar hingga hampir tak pernah rugi.
Kembali ke pernyataan Carolyn Turk bahwa harga beras kita lebih tinggi 20% dibanding harga beras di pasar global, sebenarnya lebih merupakan “provokasi” dibanding pernyataan seorang pejabat Bank Dunia yang netral dan berdasarkan kondisi riil di lapangan dan juga (mestinya) apple to apple. Meskipun membandingkan harga beras di dua negara penghasil padi pun, misalnya Indonesia dengan Vietnam, Thailand, Bangladesh, China dan India; sebenarnya juga tak pernah bisa tepat.
Sebab banyak sekali faktor internal di negeri tersebut yang berpengaruh ke produktivitas lahan sawah, yang kemudian berdampak ke harga beras di tingkat grosir maupun eceran. Bahkan harga beras di dalam negeri Indonesia pun, sangat bergantung ke jenis berasnya: premium, medium, non kelas dan produk khusus (organik dll). Harga beras di Jawa tentu jauh lebih murah dibanding di pedalaman Papua. Tetapi harga beras di Jawa justru lebih tinggi dibanding di Provinsi Papua Selatan (Merauke). # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto F. Rahardi
