PERGESERAN POLA KONSUMSI TEMBAKAU
by indrihr • 09/02/2026 • Uncategory • 0 Comments
Laba Gudang Garam salah satu “raksasa” produsen rokok Indonesia pada semester I tahun 2025 Rp 117,1 miliar turun 87,3% dibanding laba semester I tahun 2024 Rp 925,5 miliar.
Pendapatan Gudang Garam hingga Juni 2025 Rp 44,3 triliun turun 11,4% dari pendapatan Juni 2024 Rp 50,01 triliun.
Di lain pihak, setoran deviden Tarumartani, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ke Pemerintah Provinsi DIY tahun 2021 Rp 5,439 miliar, naik 41,75% dibanding setoran tahun 2020 Rp 3,837 miliar. Tarumartani meskipun berpredikat perusahaan cerutu dan tembakau lintingan tertua di Asia tenggara, tetap hanya sebuah perusahaan kecil dibanding “raksasa” keretek Indonesia. Tarumartani bisa mewakili perusahaan-perusahaan rokok “gurem”, baik bercukai maupun tak bercukai, yang belakangan justru naik daun. Mereka mampu “menggerogoti” pangsa pasar perusahaan rokok besar yang selama ini seperti tak tergoyahkan.
Turunnya laba Gudang Garam tentu tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Kinerja internal manajemen sangat berpengaruh terhadap penurunan laba tersebut. Sampoerna yang juga sama-sama perusahaan terbuka (go publik), pada semester I tahun 2025 tetap membukukan laba bersih Rp2,1 triliun. Ini menunjukkan bahwa bisnis rokok sebenarnya masih tak bermasalah. Sampai dengan tahun 2023 laba PT Bentoel juga masih terdeteksi cukup baik. Tetapi sejak 2024 status Tbk (Terbuka) PT Bentoel Internasional Investama dihapus dari Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga status laba ruginya tidak bisa dilihat publik.
Bulan Agustus merupakan puncak panen raya tembakau voor oogst (VO) di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Tembakau voor oogst ditanam di dataran tinggi pada musim penghujan dan dipanen musim kemarau. Penyerap tembakau voor oogst perusahaan rokok keretek. Selain tembakau voor oogst juga dikenal tembakau na oogst (NO) yang ditanam pada musim kemarau dan dipanen pada awal musim penghujan. Tembakau na oogst diserap perusahaan rokok putih, cerutu, tembakau lintingan “virginia” dan shag. Sentra tembakau na oogst di dataran rendah Pantura Jawa, terutama di Jawa Timur.

Tampaknya harga daun tembakau voor oogst segar pada bulan Agustus 2025 sekarang ini juga relatif stabil dibanding harga tahun lalu, bahkan ada kecenderungan naik. Rata-rata harga daun tembakau kualitas standar Rp20.000 per kilogram. Tembakau “srintil” dengan kandungan tar dan nikotin sangat tinggi bisa berharga Rp1,5 juta per kilogram. Srintil adalah fenomena alam yang sulit dideteksi, karena kemunculannya sangat bergantung pada intensitas sinar matahari dan hujan. Tidak setiap tahun akan muncul tembakau srintil dan lokasi kemunculannya juga tidak pernah diketahui sebelumnya. Tahu-tahu di suatu kawasan tembakau mereka menjadi srintil.
Perilaku Berubah
Sebenarnya sudah sejak dekade 2000, ada perubahan perilaku mengisap tembakau. Yang paling drastis ditemukannya vape (rokok elektrik) pada tahun 2003 di China, yang masuk ke Indonesia tahun 2010. Vape mau tidak mau menjadi pesaing tembakau. Tetapi dilihat dari pendapatan perusahaan rokok, pada dekade 2010 vape belum merupakan ancaman yang perlu disikapi. Kecuali di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, rokok benar-benar tersisih oleh vape. Hingga di tempat-tempat wisata lebih mudah dijumpai kios vape, cerutu, dan penjual ganja. Mendapatkan rokok di negeri asal-usul tembakau ini sangat sulit.
Generasi muda berpendidikan pengisap tembakau, akhirnya tahu bahwa pendapatan perusahaan rokok yang selama ini mereka isap, bukan berasal dari tembakau. Pendapatan tertinggi perusahaan rokok dari memproduksi dan menjual kemasan sebagai wadah tembakau. Nilai kemasan rokok bisa lebih dari 50% nilai tembakau. Terlebih kemasan yang berlapis-lapis dengan dalih untuk menjaga agar aroma tembakau tidak hilang selama dalam pemasaran. Karenanya generasi muda berpendidikan ini kemudian melinting sendiri racikan tembakau yang akan mereka isap. Bisnis racikan tembakau, kertas dan alat pelinting jadi hidup.
Produsen tembakau racikan ini bisa membuat hampir semua merk rokok terkenal. Mau Dji Sam Soe, Djarum Super, Bentoel International, Gudang Garam Filter; semua bisa diracik persis sama. Dulu masyarakat mengira, bahwa racikan rokok keretek hanyalah tembakau dengan cengkih dan resepnya sangat dirahasiakan oleh perusahaan rokok. Ternyata aroma rokok kretek modern lebih ditentukan oleh saus (essence) yang dipesan perusahaan rokok ke beberapa produsen essence di Semarang. Perusahaan-perusahaan ini melayani pembuatan essence dari perusahaan rokok besar, minuman, permen, dan kue-kue.
Tren mengisap tembakau racikan yang dilinting sendiri ini kemudian berkembang melahirkan pengusaha-pengusaha rokok tanpa cukai yang banyak dirazia aparat keamanan. Kadang razia ini sulit dilakukan karena produksinya berlokasi di rumah-rumah penduduk dan pemasarannya secara tertutup dalam komunitas terbatas. Para penikmat tembakau juga berpeluang untuk membeli tembakau di pasar, cengkih dan kemudian meraciknya sendiri dengan berbagai essence yang dijual bebas di pasar. Toko-toko tembakau juga bermunculan di mana-mana untuk menjual tembakau racikan maupun tembakau shag bermerk dan tembakau pipa.
Indonesia bagaimana pun masih “surga” bagi para penikmat tembakau. Kita tercatat sebagai penghasil tembakau nomor empat dunia (225 ribu ton), setelah China (2,1 juta ton); India (772 ribu ton) dan Brasil (667 ribu ton). Tahun 2024 kita mengekspor 1.000 ton tembakau cerutu produk PTPN. Tetapi pada tahun yang sama kita juga mengimpor tembakau bahan rokok 1.600 ton. Dari sisi volume, neraca perdagangan tembakau kita defisit. Tetapi dari nilai kita surplus. Sebab yang kita ekspor tembakau cerutu senilai 2 miliar dolar AS, sedangkan yang kita impor tembakau murah senilai 911 juta dolar AS. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
