TRENGGULI WANGGANG
by indrihr • 09/03/2026 • Uncategory • 0 Comments
Nama trengguli digunakan untuk pohon berbunga kuning dengan nama botani Cassia fistula. Untuk perdu berbunga pink Cassia javanica, orang Jawa menyebutnya “trengguli atau tengguli wanggang”, orang Sunda menamainya “bebondelan”. Agustus dan September ini trengguli dan trengguli wanggang berbunga lebat.
Trengguli asli India meskipun sejak zaman Hindu sudah tersebar merata ke seluruh Kepulauan Nusantara. Sedangkan trengguli wanggang asli China, Asia Tenggara dan Australia. Bunga trengguli wanggang yang berwarna pink lebih disukai dibanding trengguli yang berwarna kuning polos. Trengguli wanggang justru “top markotop” sebagai perdu hias di tepi jalan atau taman kota di luar Indonesia. Sementara di jalan-jalan raya di Indonesia lebih dominan Tabebuia kuning asal dari Amerika Selatan. Di sini trengguli dan trengguli wanggang dijumpai tumbuh liar di kawasan kering seperti NTT.
Sekarang ini kalau kita berkunjung ke Pulau Rinca untuk melihat komodo, pohon trengguli wanggang di sana sedang berbunga lebat. Trengguli wanggang memang lebih senang tumbuh di kawasan kering seperti Pulau Rinca. Di sini bunga trengguli wanggang tampak memenuhi seluruh tajuk pohon sementara daunnya hampir tidak tampak. Trengguli wanggang di Pulau Rinca ini tumbuh liar. Di NTT trengguli wanggang memang tumbuh di mana-nama dan dikenal dengan nama balayong. Nama ini umum digunakan di seluruh Flores dan juga di Filipina. Meskipun di masing-masing etnisitas di Flores sebutannya berbeda-beda.
Sampai dengan tanggal 2 November yang merupakan Hari Arwah, bunga trengguli wanggang masih mudah dijumlai di NTT. Bunga itu dipetik dari pohonnya dan menjadi perangkat ziarah ke makam. Selain trengguli wanggang dan trengguli; Red Cassia, Cassia roxburghii yang juga disebut trengguli wanggang pada bulan-bulan ini juga sedang berbunga lebat. Di NTT, musim berbunga genus Cassia sedikit mundur dibanding dengan di Pulau Jawa. Hingga sampai awal November bunga-bunga itu masih bisa dipetik untuk ziarah ke makam pada Hari Raya Arwah.

Di beberapa obyek wisata di Pulau Jawa, sekarang sudah mulai tampak ditanam trengguli yang berbunga kuning polos, tetapi masih jarang tampak trengguli wanggang. Di Pulau Jawa pada umumnya bunga genus Cassia tidak akan pernah selebat di NTT. Kecuali di dataran rendah Pasuruan, Probolinggo dan Situbondo yang juga ekstrim kering. Dari 37 spesies dalam genus Cassia, yang paling banyak dijumpai di Indonesia hanya tiga spesies: Cassia javanica yang memang asli sini, Cassia fistula dan Cassia roxburghii. Tiga spesies ini banyak ditanam sebagai perdu hias karena keindahan bunganya.
Bunga dan Pucuk Edible
Bunga dan pucuk trengguli wanggang edible. Masyarakat tradisional memetik bunga, kuncup bunga dan pucuk daun untuk disayur secara tunggal atau bersama sayuran lain. Tetapi biji trengguli wanggang justru beracun. Meskipun beracun, biji dan kulit kayu sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional pereda demam. Hanya penggunaannya mestilah di bawah petunjuk para ahli obat tradisional. Sebab apabila kelebihan dosis akan menyebabkan pusing dan muntah. Selain pereda demam, biji trengguli wanggang juga digunakan untuk pencahar tradisional.
Di India serbuk biji trengguli wanggang ditaburkan dalam adonan makan sirih (daun sirih, pinang atau gambir, dan kapur) untuk lebih menimbulkan efek “fly”. Di Singapura saya pernah membeli adonan sirih pinang India ini dan efek “fly” itu langsung berasa hingga hampir jatuh kalau tak berpegangan tiang bangunan. Adonan sirih pinang itu menggunakan aneka rempah salah satunya serbuk biji trengguli wanggang. Tradisi makan sirih memang berasal dari India kemudian menyebar ke Asia Tenggara/Timur termasuk ke Kepulauan Nusantara. Di Indonesia adonan sirih pinang kembali menjadi sederhana: sirih, pinang dan kapur.
Harga bibit (berupa tanaman) trengguli wanggang berkisar antara Rp20.000 sampai dengan di atas Rp100.000 per tanaman bergantung ukuran. Benih berupa biji Rp200 per butir. Peminat bibit dan biji trengguli wanggang sangat kecil. Bahkan trengguli bunga kuning polos masih lebih banyak diminati para perancang/pemborong pengerjaan taman. Trengguli bunga kuning Cassia fistula lebih menarik bukan hanya karena bunganya, melainkan juga polongnya yang memanjang. Lain dengan polong trengguli wanggang yang berukuran lebih besar tetapi lebih pendek hingga tidak semenarik polong Cassia fistula.
Tiga spesies Cassia yang terdapat di Indonesia, semua disebut trengguli. Cassia javanica dan Cassia roxburghii kadang-kadang sama-sama disebut trengguli wanggang atau trengguli merah. Itu bukan hanya berlaku untuk bahasa daerah di Indonesia melainkan juga untuk Bahasa Inggris. Nama morning glory misalnya, digunakan untuk menyebut 10 genus tanaman. Itulah sebabnya diperlukan penyabutan nama latin (nama botani), agar tidak menimbulkan salah tafsir/pengertian. Sudah menggunakan nama latin pun bisa membingungkan apabila acuannya bukan lembaga-lembaga berkompeten seperti Kew Garden.
Ada pepatah “Nabi tidak dipercaya di negeri sendiri”. Pepatah ini juga berlaku untuk tumbuhan. Di Bandara Lihue, Pulau Kauai, Hawaii; Uber saya minta nunggu sebentar karena saya lihat deretan pohon penuh dengan bunga ping yang mencolok. Setelah saya zoom pakai kamera prosumer tampaklah trengguli wanggang yang asli negeriku. Jebul di Honolulu juga ada beberapa jalan dengan deretan trengguli wanggang. Salah satunya di Kūhiō Ave, Waikiki. Jelas ada perasaan bangga bahwa tumbuhan asli negeriku jadi perdu hias di negeri maju. Sementara jalan-jalan di Jakarta justru berhiaskan pohon pendatang dari Amerika Selatan. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
